Portalone.net – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya berada dalam posisi siaga penuh untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran dengan intensitas yang lebih tinggi. Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya situasi menyusul serangan udara terbaru Amerika Serikat ke wilayah Iran, kendati kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata.
Dalam sebuah upacara militer pada Kamis (9/7), Katz menyatakan bahwa militer Israel telah bersiap untuk kembali melancarkan serangan udara guna menetralkan ancaman. Ia menekankan bahwa Israel tidak ragu untuk melakukan intervensi militer kembali jika situasi menuntut.
“Militer dalam kondisi siaga untuk melanjutkan pertempuran, kembali merebut keunggulan udara, dan melancarkan serangan terhadap Iran demi menghilangkan berbagai ancaman. Jika kami harus kembali, kami akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar,” tegas Katz sebagaimana dikutip dari AFP.
Senada dengan Menteri Pertahanan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai bahwa serangkaian operasi militer yang dilakukan sebelumnya telah melemahkan posisi Iran secara signifikan.
“Poros Iran kini berada pada titik terlemahnya, sementara Israel berada pada titik terkuatnya,” ujar Netanyahu. Ia menambahkan bahwa kemampuan jangkauan Angkatan Udara Israel telah terbukti mampu mencapai target di wilayah yang sangat jauh, mulai dari Yaman hingga Iran. Kendati demikian, Netanyahu mengakui bahwa konflik ini belum sepenuhnya berakhir.
Konflik antara AS-Israel dengan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu dipicu oleh kampanye serangan udara yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah pejabat senior lainnya. Serangan tersebut merupakan eskalasi lanjutan setelah perang 12 hari yang terjadi pada Juni 2025.
Meskipun nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri permusuhan telah diteken, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran dalam dua hari terakhir. AS berdalih langkah tersebut diambil sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, yang menurut Washington merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata.
Di sisi lain, Teheran membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa kapal-kapal yang diserang melintasi koridor di luar ketentuan yang ditetapkan Iran di Selat Hormuz. Pemerintah Iran mengecam serangan AS sebagai bentuk pengkhianatan terhadap MoU yang telah disepakati dan bersumpah akan melancarkan balasan terhadap situs militer AS di Timur Tengah.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang yang lebih luas, yang berpotensi menyeret negara-negara Arab yang menampung pangkalan militer AS.
Situasi diperumit dengan posisi Israel yang sejak awal menunjukkan sikap skeptis terhadap upaya diplomasi antara AS dan Iran. Israel terus melakukan operasi di Lebanon selatan yang menyasar milisi Hizbullah sekutu utama Iran di mana stabilitas di wilayah tersebut menjadi salah satu syarat krusial dalam keberlangsungan perundingan AS-Iran.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah eskalasi militer yang kian masif di kawasan Timur Tengah.