Portalone.net – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik didih menyusul serangkaian serangan udara yang dilancarkan militer AS ke wilayah selatan Iran pada Selasa (7/7) dan Rabu (8/7). Aksi militer tersebut memicu kecaman keras dari Teheran, yang menganggap tindakan Washington sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) yang baru disepakati pada Juni lalu.
Serangan terbaru AS dilaporkan menghantam infrastruktur vital, termasuk pembangkit listrik, yang menyebabkan pemadaman total di sejumlah wilayah. Amerika Serikat berdalih bahwa operasi militer tersebut merupakan konsekuensi atas serangkaian serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
Menanggapi eskalasi tersebut, otoritas Iran mengeluarkan peringatan keras. Juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi ancaman invasi, khususnya menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menargetkan Pulau Kharg.
Dalam pernyataan tegas yang dikutip dari Al Jazeera, Rezaei menyatakan bahwa militer Iran akan memberikan perlawanan maksimal. “Tidak akan ada satu pun tentara Amerika yang pulang dalam keadaan hidup. Silakan datang, kami menunggu kalian,” tegas Rezaei.
Senada dengan Rezaei, penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, menyatakan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam. Melalui platform media sosial X, Rezaee menegaskan bahwa pihak yang memulai agresi akan menerima konsekuensi fatal.
“Musuh yang menjadi agresor beserta para kaki tangannya akan menerima hukuman yang sangat berat,” ujar Rezaee, sembari mengutip ayat Al-Qur’an terkait prinsip pembalasan setimpal.
Konflik ini memperkeruh prospek perdamaian yang sempat dibangun sejak Februari lalu. Ketidakpastian semakin diperburuk oleh sikap Presiden Donald Trump di sela-sela KTT NATO di Ankara, di mana ia secara terbuka menyiratkan pembatalan komitmen dalam MoU dengan Iran, dengan dalih bahwa kesepakatan tersebut “hanya membuang-buang waktu.”
Pemerintah Iran menilai langkah sepihak AS ini telah merusak seluruh koridor diplomatik yang baru saja dirintis. Hingga berita ini diturunkan, komunitas internasional menyoroti risiko stabilitas di kawasan Selat Hormuz seiring dengan retorika perang yang terus meningkat dari kedua belah pihak.