Portalone.net – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan urgensi bagi negaranya untuk melepaskan diri dari ketergantungan militer terhadap Amerika Serikat. Pernyataan ini mencuat sebagai respons tajam atas langkah diplomatik Washington yang baru saja menyepakati perundingan lanjutan dengan Iran di Swiss, sebuah kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Dalam pertemuan dengan para perwira cadangan di Tepi Barat pada Selasa (23/6), kantor perdana menteri merilis pernyataan tegas Netanyahu yang disampaikan pada 18 Juni lalu.
“Saya sangat menghargai dukungan yang kami terima dari sahabat-sahabat kami di Amerika, tetapi kita harus melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun jaringan persenjataan yang mandiri,” ujar Netanyahu. “Kita harus memproduksi senjata kita sendiri.”
Langkah AS untuk berdialog dengan Iran memicu kemarahan di Tel Aviv. Israel, yang selama ini memandang Teheran sebagai ancaman eksistensial, merasa dikhianati oleh pendekatan diplomasi yang ditempuh pemerintahan Presiden Donald Trump. Perundingan di Swiss ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap posisi Israel yang mendesak Washington untuk tetap melancarkan tekanan militer terhadap Iran.
Sentimen ketidaksetujuan ini semakin memuncak di tengah laporan mengenai empat kelompok kerja yang dibentuk dari hasil negosiasi AS-Iran tersebut. Di sisi lain, dunia internasional mulai melihat tanda-tanda deeskalasi di lapangan, dengan laporan mengenai kembalinya aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz.
Keinginan Netanyahu untuk mengurangi ketergantungan pada Washington bukanlah isu baru. Pada Januari lalu, ia mengungkapkan kepada The Economist mengenai ambisinya untuk mencapai kemandirian pertahanan dalam satu dekade. Bahkan pada Mei, dalam wawancara dengan CBS, ia secara spesifik menyebutkan target untuk menekan tingkat ketergantungan bantuan AS hingga ke titik “nol”.
Istilah “menyapih diri” dari bantuan Amerika pun sempat ia lontarkan pada Mei 2025, saat ketegangan serupa pertama kali mencuat terkait posisi AS terhadap Iran.
Hubungan antara Washington dan Tel Aviv yang secara historis merupakan aliansi paling erat di Timur Tengah telah mengalami guncangan hebat sejak eskalasi konflik pasca-7 Oktober 2023. Perbedaan tajam mengenai strategi operasi militer Israel, khususnya dalam perang melawan Hizbullah di Lebanon, telah menciptakan jarak diplomatik yang nyata.
Presiden Donald Trump sendiri secara terbuka mengkritik taktik perang Netanyahu, memperingatkan bahwa tindakan militer Israel di Lebanon berisiko merusak seluruh kerangka perdamaian dengan Iran. Trump juga secara eksplisit mengecam kedua negara atas pelanggaran gencatan senjata yang mengakhiri konflik 12 hari tahun lalu.
Di tengah memburuknya komunikasi ini, seruan Netanyahu untuk memproduksi senjata mandiri bukan sekadar retorika politik, melainkan indikasi pergeseran doktrin pertahanan Israel yang berupaya meminimalisir pengaruh politik Washington dalam kebijakan keamanan nasional mereka.
