Portalone.net – Kehadiran Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, pada puncak perhelatan Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), menyita perhatian Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Momen menarik terjadi saat Presiden Prabowo menyapa sejumlah kepala daerah yang hadir dalam acara tersebut. Ketika nama Sherly Tjoanda disebut, massa yang memadati lokasi memberikan sambutan meriah berupa sorak-sorai yang cukup panjang. Reaksi antusias dari masyarakat tersebut membuat Presiden Prabowo tersenyum dan melontarkan candaan ringan.
“Seperti menang Piala Citra,” seloroh Prabowo di sela pidatonya, merujuk pada meriahnya apresiasi warga terhadap Gubernur Maluku Utara tersebut.
Sherly Tjoanda, yang menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara sejak 20 Februari 2025, tampak berdiri seraya tersenyum lebar menyambut sapaan Presiden dan respons hangat dari hadirin. Sherly memenangkan kontestasi Pilkada 2024 bersama wakilnya, Sarbin Sehe, dengan dukungan koalisi partai yang terdiri dari Demokrat, PAN, PPP, PKB, dan Gelora.
Kritik Presiden terhadap Kebijakan Impor Beras
Selain momen apresiasi tersebut, Presiden Prabowo dalam pidatonya kembali menyinggung isu krusial terkait kedaulatan pangan. Ia melontarkan kritik tajam kepada para pakar yang dianggap tidak memiliki keberpihakan terhadap kepentingan petani lokal.
Presiden menyoroti narasi sejumlah ahli yang dinilai tetap mendukung kebijakan impor beras. Menurut Prabowo, kebijakan tersebut kontraproduktif dan merugikan ekonomi petani Indonesia.
“Banyak pakar-pakar yang pintar-pintar, sampai sekarang masih menganggap dirinya pintar mengatakan untuk apa kita membela petani Indonesia,” tegas Presiden.
Presiden kemudian mengulas kembali pengalamannya saat menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia menceritakan upayanya dulu dalam menentang rencana impor beras kepada Menko Perekonomian saat itu, Aburizal Bakrie.
Ia menekankan bahwa impor beras yang dilakukan bertepatan dengan masa panen raya akan memicu anjloknya harga di tingkat petani. “Apalagi impor beras pada saat petani mau panen, hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal,” pungkasnya.
Prabowo menyayangkan bahwa aspirasi tersebut kala itu sempat dimentahkan oleh penasihat ekonomi pemerintah yang justru menjadi pihak pendorong utama kebijakan impor.
