Portalone.net – Cuaca panas ekstrem akibat El Nino belakangan ini semakin terasa di berbagai daerah di Indonesia, dimana mulai mengalami suhu tinggi dan udara yang lebih kering dari biasanya. Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang nyaman, dimana keringat akan berlebih, tubuh cepat lelah, bahkan bisa memicu dehidrasi berat jika tidak dijaga dengan baik.
El Nino sendiri adalah fenomena alam yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Meskipun terdengar jauh dari Indonesia, namun efeknya sangat terasa karena fenomena ini memengaruhi pola cuaca secara global.
Di Indonesia sendiri, El Nino biasanya menyebabkan berkurangnya curah hujan secara signifikan. Hal ini membuat udara jadi lebih kering, suhu meningkat, dan risiko kekeringan lebih tinggi. Selain itu, tubuh manusia juga lebih mudah kehilangan cairan tubuh karena penguapan keringat yang lebih cepat.
Itulah kenapa, saat El Nino terjadi, kita perlu lebih aware terhadap kondisi tubuh dan lingkungan sekitar. Dengan memahami penyebabnya, kita juga jadi lebih siap untuk mengantisipasi dampaknya, termasuk menjaga tubuh tetap segar dan tidak mudah kelelahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan dini terkait fenomena iklim global yang diprediksi akan menyapa Indonesia mulai pertengahan hingga semester kedua tahun 2026. Fenomena El Nino pada tahun ini diprediksi memiliki intensitas yang perlu diwaspadai, berpotensi membuat musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih lama dari biasanya dan terasa jauh lebih menyengat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang didapat dari kepala BMKG Pusat, Teuku Faisal Fathani, dalam keterangan resminya pada bulan April 2026 menyebutkan bahwa meski saat ini kondisi berada pada fase netral, indikasi penguatan menuju El Nino sudah mulai terbaca. Peluang kemunculannya diprediksi mencapai 80% pada semester kedua tahun 2026.
Hal yang perlu diwaspadai bukan hanya terjadinya suhu yang tinggi, tetapi “efek ganda” yang ditimbulkan. Ketika El Nino bertemu dengan siklus kemarau rutin, curah hujan akan merosot drastis. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pencemaran debu halus yang dapat mengganggu kualitas udara yang kita hirup setiap hari.
Hal Terkait Resiko Kesehatan
Kekeringan yang ekstrem bukan hanya soal kegerahan atau suhu badan yang terasa panas, tetapi juga ancaman bagi fungsi organ tubuh lainnya. Berdasarkan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, ada beberapa risiko utama yang harus diwaspadai menghadapi El Nino 2026:
- Dehidrasi Berat & Heatstroke: Kehilangan cairan tubuh yang terjadi secara cepat dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga pingsan secara tiba-tiba.
- Masalah Pernapasan (ISPA): Udara yang terasa sangat kering membawa lebih banyak debu dan polutan yang mengiritasi paru-paru.
- Diare dan Tipus: Kekeringan sering kali akan berdampak pada penurunan kualitas air bersih pada daerah yang sangat rentan akan ketersediaan air bersih, sehingga risiko penyakit saluran pencernaan bisa sangat meningkat.
- Serangan Nyamuk: Hal yang unik pada saat kemarau panjang, nyamuk DBD justru bisa menjadi lebih ganas karena siklus hidup mereka yang terpengaruh oleh suhu udara yang panas.
Menghadapi cuaca yang ekstrem dampak El Nino memerlukan persiapan fisik yang matang. Berikut adalah langkah praktis agar daya tahan tubuh tetap terjaga:
- Manajemen Hidrasi, tanpa menunggu rasa haus muncul meminum air putih setidaknya 2–3 liter per hari. Jangan menunggu hingga rasa haus muncul, karena haus adalah sinyal bahwa tubuh sudah mulai mengalami dehidrasi ringan, menjadi lebih baik ditambahkan asupan buah yang kaya air seperti semangka, jeruk, atau mentimun untuk menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
- Strategi Berpakaian dan Perlindungan Luar, menggunakan pakaian berbahan katun yang longgar dan berwarna cerah agar panas matahari tidak langsung terserap ke tubuh. Penggunaan tabir surya (sunscreen) dengan minimal SPF 30 sangat dianjurkan untuk mencegah iritasi pada kulit. Jika diharuskan keluar ruangan, gunakan pelindung tambahan seperti topi lebar atau payung.
- Hindari Jam “Terik Berbahaya” Jika memungkinkan, membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Pada jam tersebut, intensitas radiasi UV berada di titik tertinggi yang paling berisiko memicu heatstroke.
- Pola Makan dan Masker, mengurangi konsumsi makanan yang pedas atau gorengan yang bisa memicu “panas dalam” dan radang tenggorokan di tengah udara yang kering. Penggunaan masker saat berada di luar ruangan untuk menyaring debu dan polusi udara yang meningkat selama masa El Nino.