Portalone.net – Delegasi Amerika Serikat dan iran dijadwalkan melanjutkan kembali negosiasi tingkat tinggi di Swiss pada Minggu (21/6) waktu setempat. Pertemuan ini sempat tertunda akibat eskalasi militer dan serangan mematikan yang melibatkan Israel di Lebanon.
Wakil Presiden AS, JD Vance, telah tiba di Swiss untuk memimpin delegasi Amerika. Dalam pernyataannya, Vance menegaskan bahwa agenda pembicaraan akan difokuskan pada dua isu krusial: program nuklir Iran dan upaya gencatan senjata di Lebanon.
“Saya berharap bisa membuat kemajuan dalam isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon. Itu adalah dua fokus utama kami,” ujar Vance.
Pertemuan ini sedianya diagendakan berlangsung pada Jumat (19/6), namun terpaksa dijadwalkan ulang pada menit terakhir menyusul bentrokan yang menewaskan empat tentara Israel di perbatasan Lebanon. Meski Washington telah mengumumkan gencatan senjata baru pada Jumat malam sebagai bagian dari prasyarat kesepakatan, situasi di lapangan tetap volatil.
Ketegangan kembali memuncak pada Sabtu (20/6) setelah terjadi baku tembak antara pasukan Israel dan Hizbullah. Kedua belah pihak saling melemparkan tuduhan terkait pelanggaran gencatan senjata.
Sebagai bentuk protes atas serangan Israel di Lebanon, komando militer Iran secara resmi menyatakan akan menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal.
Delegasi Iran yang hadir di Swiss dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Teheran menuntut implementasi penuh atas komitmen pihak-pihak terkait dalam kesepakatan tersebut.
“Jika tidak (dilaksanakan), seluruh kesepahaman akan berada dalam ancaman kegagalan,” tegas Baqaei.
Dari sisi Amerika Serikat, negosiator Jared Kushner dan Steve Witkoff telah berada di lokasi lebih awal untuk merampungkan detail teknis pembicaraan. Selain itu, proses negosiasi ini turut melibatkan Qatar sebagai mediator, serta kehadiran Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Asim Munir yang turut memantau perkembangan.
Di Lebanon, efektivitas gencatan senjata masih dipertanyakan. Israel melaporkan kematian satu lagi tentaranya dalam pertempuran, menjadikan total korban jiwa di pihak mereka mencapai lima orang sejak kesepakatan awal dicapai.
Pihak militer Israel mengklaim telah menerima instruksi untuk menghentikan serangan, namun tetap beroperasi secara defensif di zona keamanan. Mereka menuduh Hizbullah memicu pertempuran dengan meluncurkan lebih dari 50 proyektil.
Sebaliknya, Hizbullah membantah tuduhan tersebut dan justru menuding Israel melakukan infiltrasi ke wilayah strategis perbukitan Ali Taher. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa kelompoknya tetap memegang hak penuh untuk melakukan perlawanan terhadap setiap serangan yang dilancarkan pihak Israel.
Hingga saat ini, laporan dari media pemerintah Lebanon mencatat serangan udara Israel telah menyasar sekitar 20 titik lokasi. Otoritas setempat mengonfirmasi lebih dari 30 orang tewas, sementara Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan total korban tewas akibat konflik ini telah melampaui 4.000 jiwa.
