Panas! BEM IPB Tolak Kampus Jadi Dapur Program Makan Bergizi Gratis: Jangan Jadi Tumbal!

Penampakan pintu utama IPB Univeristy Dramaga, Kabupaten Bogor, Selasa (14/5/2026). Foto: Kompas.com

Portalone.net – Rencana pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan kampus menuai protes keras. Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB University secara tegas menolak kehadiran dapur tersebut di instansi pendidikan.

Presiden Mahasiswa BEM KM IPB University, Abdan Rofi, menilai masuknya proyek tersebut ke ranah pendidikan justru mencederai orientasi akademik kampus.

“Intinya kami menolak adanya pembangunan SPPG di instansi pendidikan,” tegas Abdan kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).

Khawatir Mahasiswa Jadi ‘Tenaga Kerja’ MBG

Abdan menyoroti model program MBG yang dianggap terlalu dipaksakan tanpa melihat perbedaan kondisi tiap wilayah. Ia khawatir, alih-alih menjadi tempat riset, kampus justru hanya dijadikan objek proyek yang berisiko mengganggu fokus kegiatan belajar mengajar.

“Bagaimana ketersediaan resource kampus? Bagaimana kondisi fasilitas sarana-prasarana pokok instansi? Apakah pada akhirnya para dosen dan mahasiswa harus terambil alih fokusnya untuk menjadi tenaga kerja MBG?” cetusnya.

Lebih jauh, ia menyebut penggunaan kampus untuk pembangunan dapur SPPG ini sebagai bentuk “proyek tumbal” yang mengabaikan nilai moral dan intelektual lembaga pendidikan. Pihak BEM pun telah menggelar dialog terbuka dengan Rektor untuk menuntut transparansi.

Alasan IPB Turun Tangan: ‘Masak Cuma Jadi Penonton?’

Di sisi lain, pihak IPB University memiliki argumen sendiri. Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Alfian Helmi, menegaskan bahwa keterlibatan kampus adalah sebagai Center of Excellence (CoE) atau Pusat Unggulan Nasional.

Alfian membeberkan sejumlah fakta miris terkait pelaksanaan MBG di skala nasional yang memicu IPB untuk ikut campur:

“Kalau kampus dengan kapasitas riset pangan dan agribisnis seperti IPB University hanya jadi penonton, rasanya ada yang tidak beres,” ujar Alfian.

Kolaborasi dengan BGN hingga UNICEF

IPB mengklaim perannya adalah untuk memastikan program besar ini memiliki fondasi yang kuat, bukan sekadar pelaksana teknis. Kampus akan fokus pada pengembangan model dapur berbasis karakteristik lokal dan inovasi menu gizi.

Dalam menjalankan peran ini, IPB bekerja sama dengan sejumlah pihak kakap, mulai dari:

  1. Badan Gizi Nasional (BGN)

  2. Kementerian PPN/Bappenas

  3. UNICEF

  4. Hingga pemberdayaan komunitas lokal seperti BUMDes dan kelompok tani.

Pihak kampus meyakini bahwa persoalan gizi dan pangan adalah “ladang kerja” utama IPB, sehingga keterlibatan mereka adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia ke depan.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait