Portalone.net – Pernahkah Anda berpapasan dengan seorang pemuda berpakaian dinas coklat yang berjalan dengan dada terlalu membusung, atau mungkin melihat unggahan di media sosial yang isinya pamer seragam dengan narasi seolah-olah dunia sudah ada di genggaman? Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu berhasil menyulut kejengkelan publik.
Bagi banyak calon polisi atau anggota yang baru lulus, seragam adalah impian yang menjadi nyata. Namun, di balik kebanggaan itu, terselip sebuah jebakan psikologis: Post-Power Syndrome prematur.
Seleksi yang Ketat, Namun Sisi Psikologis yang Luput?
Banyak yang bertanya, “Apakah seleksinya kurang ketat?”
Secara administratif dan fisik, seleksi kepolisian sebenarnya sangat berat. Calon siswa harus melewati tes fisik yang menguras keringat hingga tes akademik yang kompetitif. Namun, ada satu celah yang sulit diukur hanya dengan lembaran kertas ujian: Kematangan Emosional.
-
Euforia Status Sosial: Di Indonesia, menjadi aparat masih dianggap sebagai pencapaian status sosial yang tinggi. Bagi anak muda yang baru lulus SMA dan langsung memegang kewenangan besar, lonjakan ego sulit dihindari jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati.
-
Budaya Korsa yang Salah Kaprah: Lingkungan pendidikan sering menekankan jiwa korsa (kebersamaan). Sayangnya, bagi mereka yang belum dewasa secara mental, jiwa korsa sering disalahartikan sebagai “kekuatan kelompok” untuk menindas atau merasa lebih hebat dari warga sipil.
Kontradiksi dengan Slogan “Melayani dan Melindungi”
Polri memiliki slogan Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan). Namun, sikap sombong dan “sok jagoan” di lapangan justru menciptakan jarak antara polisi dan rakyat.
Baca Juga:
Ketika seorang polisi baru merasa dirinya adalah “penguasa” dan bukan “pelayan”, sebenarnya ia sedang merusak citra institusinya sendiri yang dibangun dengan susah payah oleh rekan-rekannya yang benar-benar berdedikasi.
“Seragam itu seharusnya membuat pemakainya merasa memikul beban tanggung jawab, bukan justru merasa memiliki kuasa untuk sewenang-wenang.”
Harapan ke Depan
Pembelajaran di sekolah kepolisian seharusnya tidak hanya fokus pada taktik lapangan atau hukum pidana, tetapi juga pada manajemen ego dan empati. Masyarakat tidak butuh polisi yang terlihat gagah karena kesombongannya, melainkan polisi yang terlihat berwibawa karena keberpihakannya pada keadilan.
Sejatinya, kehormatan seorang polisi tidak terletak pada seberapa mentereng seragamnya di media sosial atau seberapa keras ia menggertak di jalanan, melainkan pada seberapa nyaman masyarakat merasa terlindungi saat ia berada di dekat mereka.






