Portalone.net – Pemerintah Korea Selatan secara resmi menerbitkan Peringatan Darurat Gelombang Panas untuk pertama kalinya sejak sistem peringatan dini terbaru diberlakukan tahun ini. Langkah ini diambil menyusul peningkatan frekuensi dan intensitas suhu ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Badan Meteorologi Korea (Korea Meteorological Administration/KMA), Lee Mi-seon, mengonfirmasi bahwa peringatan tersebut dikeluarkan pada Minggu (12/7) pukul 10.00 waktu setempat, khususnya bagi Kota Gyeongsan dan Pohang di Provinsi Gyeongsang Utara bagian selatan.
Sistem peringatan darurat ini diaktifkan jika wilayah terdampak diprediksi mencapai suhu yang dirasakan (felt temperature) sebesar 38 derajat Celsius atau suhu aktual sebesar 39 derajat Celsius selama satu hari penuh.
Lee Mi-seon menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar pemberitahuan cuaca panas biasa. “Peringatan ini mengindikasikan kondisi di mana orang sehat sekalipun menghadapi risiko tinggi gangguan kesehatan serius, mulai dari penyakit terkait suhu ekstrem hingga kematian,” ujarnya dalam konferensi pers.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk segera menghentikan aktivitas luar ruangan dan mencari tempat berlindung yang sejuk. Pihak berwenang juga secara khusus menekankan agar tidak meninggalkan anak-anak maupun hewan peliharaan di dalam kendaraan.
Data KMA menunjukkan pergeseran iklim yang signifikan di Korea Selatan. Rata-rata jumlah hari gelombang panas (suhu maksimum minimal 33 derajat Celsius) meningkat dua kali lipat menjadi 19 hari per tahun dalam lima tahun terakhir, dibandingkan dengan delapan hari per tahun pada dekade 1970-an. Demikian pula dengan fenomena “malam tropis” (suhu minimum 25 derajat Celsius atau lebih) yang melonjak dari empat menjadi 14 malam per tahun.
Fenomena suhu ekstrem ini tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Sejumlah wilayah di Amerika Serikat, seperti New York dan Washington D.C., juga tengah bergulat dengan suhu yang diprediksi memecahkan rekor sejak 1919, dengan indeks panas yang dirasakan mencapai 46 derajat Celsius. Sementara di Eropa, gelombang panas ekstrem telah memicu angka kematian berlebih dan memaksa penutupan objek wisata ikonik seperti Menara Eiffel.
Para pakar meteorologi menilai intensitas gelombang panas yang terjadi pada awal Juli 2026 ini merupakan bukti nyata percepatan krisis iklim global. Selain itu, kembalinya fenomena El Nino yang meningkatkan suhu permukaan Samudra Pasifik turut memperburuk kondisi cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk potensi pemanasan suhu laut yang dapat memicu badai tropis lebih kuat.
