Portalone.net – Belakangan ini, jika Anda menghabiskan waktu sejenak di media sosial atau sekadar mengamati hiruk-pikuk di ruang publik, mungkin Anda pernah bergumam, “Dunia ini sedang tidak baik-baik saja.”
Mulai dari tren yang melampaui batas kewajaran, gaya hidup yang seolah mencari validasi instan, hingga perilaku impulsif yang membuat kita mengernyitkan dahi sering kali kita menyebutnya sebagai perilaku “setengah waras”. Namun, pertanyaannya tetap menggantung: apakah ini tanda zaman yang memang sudah “tua”, ataukah ekonomi yang memaksa karakter manusia bertransformasi menjadi sesuatu yang sulit kita kenali?
Tak bisa dimungkiri, ekonomi adalah napas dari kehidupan bermasyarakat. Ketika biaya hidup meroket dan standar kenyamanan terus bergeser ke arah materialistik, manusia dipaksa untuk beradaptasi dengan cara-cara yang ekstrem.
Dalam kacamata sosiologi lifestyle, tekanan finansial yang konstan menciptakan apa yang disebut sebagai burnout kolektif. Ketika seseorang merasa bahwa kerja keras saja tidak cukup untuk menjamin masa depan, moralitas dan etika sering kali menjadi komoditas yang “dikorbankan” demi bertahan hidup atau sekadar terlihat “berhasil”. Inilah yang melahirkan perilaku-perilaku jalan pintas, obsesi pada citra diri (gaya hidup flexing), hingga hilangnya empati karena semua orang terlalu sibuk dengan “perlombaan tikus” mereka masing-masing.
Di sisi lain, ada narasi klasik bahwa “zaman sudah tua”. Jika diterjemahkan ke dalam konteks modern, mungkin ini adalah tentang krisis eksistensial. Kita hidup di era di mana informasi masuk tanpa filter dan perhatian manusia diperebutkan setiap detiknya oleh algoritma.
Generasi hari ini hidup dalam ruang gema (echo chamber) yang membuat mereka terisolasi secara emosional meski terhubung secara digital. Ketika batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin kabur, banyak orang kehilangan “jangkar” moral mereka. Perilaku “aneh” yang kita lihat entah itu demi konten atau ekspresi diri yang kebablasan sering kali merupakan bentuk teriakan minta tolong atau upaya putus asa untuk mendapatkan pengakuan di tengah dunia yang terasa sangat acuh tak acuh.
Apakah Kita Benar-benar Berubah?
Mungkin jawabannya bukan salah satu dari keduanya, melainkan kombinasi yang mematikan.
Ekonomi yang menuntut kecepatan membuat kita kehilangan ruang untuk refleksi diri. Zaman yang serba digital memberikan kita panggung untuk memperlihatkan sisi paling aneh dari kepribadian kita tanpa adanya konsekuensi sosial yang nyata. Kita tidak menjadi lebih gila, kita hanya menjadi lebih “terekspos”.
Perilaku yang dianggap setengah waras ini sebenarnya adalah cerminan dari masyarakat yang sedang lelah. Lelah bersaing, lelah berpura-pura, dan lelah mencari makna di tengah arus komodifikasi yang tak berujung.
Menata Kewarasan di Tengah Arus
Pada akhirnya, menjadi “normal” di tengah dunia yang terasa makin tidak masuk akal mungkin adalah sebuah kemewahan baru. Menjaga kewarasan kini bukan lagi tentang mengikuti arus, melainkan tentang berani melangkah mundur, membatasi konsumsi informasi, dan kembali pada nilai-nilai yang membuat kita manusia bukan sekadar angka dalam statistik ekonomi atau konten dalam feed media sosial.
Dunia mungkin tidak menjadi lebih tua, ia hanya sedang bertransformasi menjadi versi yang lebih bising. Dan di tengah kebisingan itu, pilihan untuk tetap menjadi manusia yang utuh dengan empati dan kesadaran adalah bentuk perlawanan yang paling elegan.
Menurut pandangan Anda, dari sekian banyak fenomena sosial yang terjadi saat ini, manakah yang paling mencerminkan perubahan karakter manusia yang paling drastis dan mengkhawatirkan?
