Portalone.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyatakan minatnya untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian Amerika Serikat yang ke-51.
Dalam wawancara telepon dengan Fox News pada Senin (11/05), Trump secara terang-terangan menyebut kekayaan sumber daya alam Venezuela terutama cadangan minyaknya yang diperkirakan bernilai US$40 triliun sebagai alasan utama di balik ketertarikannya.
“Venezuela menyukai Trump,” klaim sang Presiden, sembari menambahkan bahwa ia merasa memiliki kedekatan dengan warga di negara Amerika Selatan tersebut.
Ambisi Teritorial yang Meluas
Pernyataan ini menandai babak baru dalam serangkaian klaim aneksasi yang dilontarkan Trump sejak kembali menjabat di Gedung Putih. Sebelumnya, ia telah menyatakan minat serupa terhadap beberapa wilayah lain, termasuk:
-
Kanada dan Greenland di utara.
-
Panama dan Kuba di wilayah Karibia dan Amerika Tengah.
Gagasan untuk mengintegrasikan Venezuela muncul setelah AS meluncurkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro atas tuduhan narko-terorisme. Sejak jatuhnya pemerintahan Maduro, Washington telah mengambil langkah-langkah untuk mengamankan dan menjual pasokan minyak Venezuela, yang diklaim Trump sebagai upaya untuk “menstabilkan ekonomi” negara tersebut.
‘Kesepakatan Besar’ bagi Perusahaan AS
Gedung Putih dilaporkan telah mengirimkan sejumlah pejabat ke Caracas untuk memfasilitasi kesepakatan antara pemerintah transisi dengan raksasa energi dan pertambangan asal AS. Trump menegaskan visinya agar sumber daya minyak Venezuela dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika.
Asisten Sekretaris Pers Gedung Putih, Olivia Wales, menyebut hubungan kedua negara saat ini “luar biasa.”
“Minyak mulai mengalir dan sejumlah besar uang, yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun, akan membantu rakyat Venezuela,” ujar Wales dalam sebuah pernyataan.
Perlawanan dari Caracas
Namun, ambisi Trump tersebut mendapat penolakan keras dari kepemimpinan di Caracas. Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menegaskan bahwa kedaulatan negara adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
“Kami akan terus membela integritas, kedaulatan, kemerdekaan, dan sejarah kami,” kata Rodriguez kepada para wartawan, menanggapi pernyataan Trump yang dianggap mengancam otonomi bangsa Venezuela.
Meskipun Trump menyatakan ingin memimpin Venezuela selama masa transisi, jalan menuju aneksasi secara hukum dan diplomatik diprediksi akan menghadapi hambatan masif, baik dari hukum internasional maupun penolakan domestik di Venezuela sendiri.
