Jambi, Portalone.net – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Militer Iran mengeklaim telah menembakkan “rudal peringatan” ke arah dua kapal perusak Amerika Serikat yang melintas di Teluk Oman. Iran menyebut aksi itu memaksa kapal-kapal AS tersebut angkat kaki dari wilayah itu.
Dilansir dari kantor berita Iran, IRNA, militer Iran menyatakan bahwa dua kapal perusak AS tersebut meninggalkan Teluk Oman segera setelah aksi penembakan “rudal peringatan” yang dilakukan pasukan mereka.
Operasi tersebut diklaim sebagai respons atas apa yang disebut Iran sebagai “pelanggaran maritim dan tindakan provokatif”, serta tudingan pembajakan kapal dagang dan tanker minyak oleh pihak yang mereka sebut sebagai “angkatan laut teroris Amerika Serikat”.
Respons Tegas CENTCOM: Itu Tidak Benar!
Pernyataan Iran tersebut langsung dibantah keras oleh Komando Pusat Militer AS (CENTCOM). Pihak AS menegaskan tidak ada insiden penembakan atau serangan apa pun terhadap kapal perang mereka.
“Pasukan Iran TIDAK menyerang atau menembaki kapal perang Angkatan Laut AS. Tindakan seperti itu akan menjadi pelanggaran serius terhadap gencatan senjata,” tegas CENTCOM seperti dikutip AFP.
CENTCOM menambahkan bahwa pasukan mereka saat ini tetap beroperasi dengan bebas di perairan regional dan terus menjalankan blokade tandingan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Insiden ini menjadi episode terbaru yang mengguncang gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan pada 8 April antara AS dan Iran. Hingga kini, berbagai upaya untuk mengakhiri konflik melalui perundingan langsung maupun jalur mediasi masih menemui jalan buntu.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu (3/6) menyatakan bahwa Washington “tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan” terhadap Iran karena Operation Epic Fury—nama sandi untuk serangan AS terhadap Iran—telah berakhir.
Rubio mengeklaim bahwa Amerika Serikat telah berhasil menghancurkan apa yang disebutnya sebagai “sisa-sisa angkatan udara Iran” serta “melumpuhkan seluruh angkatan laut konvensional” negara tersebut.
Seperti diketahui, sejak perang pecah, Iran memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Oman dengan Samudra Hindia. AS kemudian merespons dengan membentuk blokadenya sendiri terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi energi global. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit yang strategis tersebut.
Terkait situasi yang sangat dinamis ini, apakah Anda ingin saya mencari informasi lebih lanjut mengenai perkembangan terbaru terkait blokade maritim di Selat Hormuz?
