Portalone.net – Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, mengungkapkan bahwa perbedaan mendasar dalam menentukan prioritas keamanan nasional menjadi penyebab utama kerenggangan posisi antara Israel dan Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman Iran.
Dalam sebuah pernyataan, Baram menjelaskan bahwa ketidaksinkronan ini tidak muncul dari perbedaan persepsi mengenai ancaman itu sendiri, melainkan dari skala kepentingan yang berbeda bagi masing-masing negara.
“Perbedaan di antara kita bukan terletak pada bagaimana kita memahami ancaman tersebut, tetapi pada prioritas kita. Bagi Israel, Iran adalah ancaman eksistensial, sementara bagi Amerika Serikat, Iran hanyalah tantangan regional kronis,” ujar Baram.
Baram menegaskan bahwa Washington saat ini tengah memfokuskan sumber daya dan kebijakan luar negerinya untuk membendung pengaruh China serta mengantisipasi potensi konflik di Selat Taiwan. Pergeseran perhatian global ini membuat Amerika Serikat cenderung memandang isu Timur Tengah dengan perspektif yang lebih pragmatis.
Menurutnya, apa yang sering dipersepsikan oleh sebagian kalangan di Israel sebagai “kelemahan” atau pengabaian Washington terhadap tanda peringatan di lapangan, sebenarnya merupakan bentuk manajemen risiko yang terukur dari pihak Amerika Serikat.
“Washington melihat isu keamanan terkait China dan Taiwan sebagai ancaman yang jauh lebih serius. Kita memikirkan Teheran, sementara mereka memikirkan Taiwan,” tambahnya.
Dari sisi militer, Baram menyoroti pandangan Pentagon yang menilai bahwa perang berkepanjangan di Timur Tengah justru kontraproduktif terhadap strategi global Amerika Serikat. Hal ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menjaga ketersediaan amunisi dan kesiapan logistik dalam menghadapi potensi konfrontasi di kawasan Indo-Pasifik.
“Dengan keterbatasan amunisi Amerika yang harus terbagi antara mendukung konflik saat ini dan mempersiapkan diri untuk konfrontasi potensial di Selat Taiwan, perang yang berlarut-larut di Timur Tengah bertentangan dengan kebijakan global mereka,” jelas Baram.
Baram juga menyinggung dinamika politik di bawah pendekatan “Amerika Pertama” (America First) yang diusung oleh pemerintahan Donald Trump. Ia menegaskan bahwa dalam realitas politik saat ini, kemitraan antara Tel Aviv dan Washington tidak bisa lagi hanya disandarkan pada nilai-nilai bersama, melainkan harus berbasis pada kepentingan strategis yang selaras.
Ia mencatat bahwa Amerika Serikat memiliki ketidaksukaan yang mendalam terhadap keterlibatan dalam konflik yang berkepanjangan, namun di sisi lain, Washington tetap enggan menelan kekalahan dalam kampanye militer yang telah mereka mulai.
Pernyataan Baram ini mencuat di tengah spekulasi mengenai ketidaksolidan hubungan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump, yang belakangan kerap diwarnai oleh silang pendapat terkait penanganan isu nuklir Iran dan stabilitas di Timur Tengah.
