Pengamat ekonomi menilai perlambatan konsumsi rumah tangga dan ketidakpastian pendapatan dapat memperbesar kerentanan sosial, termasuk mendorong kejahatan oportunistik. “Saat tekanan biaya hidup meningkat dan pekerjaan informal melemah, risiko kriminalitas tertentu bisa naik, terutama yang sifatnya ‘cepat dapat uang’,” kata seorang ekonom dari lembaga riset independen. Namun ia menekankan bahwa faktor keamanan, penegakan hukum, dan kondisi lingkungan juga sangat menentukan.
Pemerintah daerah menyatakan menyiapkan langkah ganda: penguatan keamanan sekaligus bantuan sosial dan program padat karya. Seorang pejabat pemda mengatakan pemetaan wilayah rawan akan disinkronkan dengan penambahan penerangan jalan, kamera pengawas di beberapa koridor, serta koordinasi dengan pengurus RT/RW untuk mempercepat pelaporan.
Sementara itu, organisasi masyarakat sipil mengingatkan agar respons keamanan tidak berdiri sendiri. “Patroli penting, tetapi pemulihan ekonomi warga juga krusial. Bantuan harus tepat sasaran, dan akses kerja jangka pendek perlu diperluas,” kata perwakilan sebuah lembaga advokasi perkotaan.
Kepolisian mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, menghindari memamerkan barang berharga di ruang publik, serta segera melapor jika menjadi korban. Aparat juga meminta warga tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi di media sosial dan menyerahkan proses penanganan kepada pihak berwenang.







