Menghargai Diamnya Sang Ahli di Tengah Bisingnya Para Pendebat

Ilustrasi seorang pemuda sedang bekerja di depan Laptop. Foto: Freepik.com

Portalone.net – Pernahkah Anda memperhatikan betapa riuhnya dunia kita belakangan ini? Ada satu fenomena unik sekaligus menggelitik: seseorang yang merasa sudah berada di puncak dunia hanya karena ia punya “mulut yang manis”. Mereka yang merasa begitu dominan hanya karena lancar berbicara, seolah-olah kefasihan lidah adalah satu-satunya standar kecerdasan.

Padahal, jika kita mau jujur, kemampuan bicara tanpa isi itu seperti kemampuan anak kecil yang merengek semua orang bisa melakukannya. Namun, yang menarik bukan hanya soal cara mereka bicara, tapi bagaimana mereka menjalani hidup di balik layar.

Siklus Hidup yang “Garing”

Ada kontras yang cukup tajam di sini. Karena hanya memiliki keterampilan bicara tanpa kedalaman skill yang nyata, dunia mereka seringkali menjadi sangat sempit. Saat tidak sedang memamerkan “retorika”-nya, hidup mereka biasanya terjebak dalam siklus yang itu-itu saja: bangun, kerja sekadarnya, pulang ke rumah, lalu hanyut dalam doom-scrolling di media sosial.

Ponsel menjadi pelarian dari kehampaan. Karena tidak punya keahlian yang bisa ditekuni seperti hobi yang menantang atau keterampilan teknis yang membutuhkan fokus mereka akhirnya hanya menjadi penonton pasif dari kehidupan orang lain di layar digital.

Ketika “Isi” Kalah oleh “Kemasan”

Bagian yang paling ironis adalah bagaimana masyarakat kita saat ini memberi panggung. Sering kali, mereka yang benar-benar memiliki keahlian, yang tangannya bekerja keras menciptakan sesuatu, justru dianggap sepele. Mereka yang “berisi” sering dicap membosankan atau rendah karena tidak pandai memoles citra dengan kata-kata.

ADVERTISEMENT

Kita hidup di era di mana “kemasan” sering kali lebih dihargai daripada “isi”. Si pembual dianggap hebat, sementara si ahli yang pendiam dianggap tak punya peran.

Kembali ke Esensi

Padahal, sebuah peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya jago berteori di depan cermin. Dunia ini bergerak karena orang-orang yang memiliki kelebihan nyata mereka yang meski tak banyak bicara, namun karyanya bicara dengan lantang.

Pada akhirnya, kefasihan bicara memang sebuah bakat, tapi tanpa keahlian nyata, itu hanyalah kebisingan yang tak bermakna. Sudah saatnya kita kembali belajar menghargai kedalaman daripada sekadar permukaan, karena emas yang tertimbun di dalam tanah tetaplah berharga, meski ia tidak berisik seperti kaleng kosong yang ditendang di jalanan.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait