Portalone.net – Amerika Serikat dilaporkan tengah menggodok rencana militer besar-besaran untuk melumpuhkan kekuatan Iran di Selat Hormuz. Langkah ekstrem ini disiapkan Washington sebagai opsi terakhir jika upaya gencatan senjata dan jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Dilansir dari sumber-sumber yang familiar dengan isu tersebut, militer AS kini mempertimbangkan sederet opsi operasional. Fokus utamanya adalah “penargetan dinamis” terhadap aset-aset militer Teheran yang tersebar di sepanjang Selat Hormuz, Teluk Arab bagian selatan, hingga Teluk Oman.
Incar Kapal Cepat dan Penebar Ranjau
Rencana serangan ini dirancang untuk menyasar titik nadi pertahanan asimetris Iran. Target utamanya meliputi:
-
Kapal serang cepat berukuran kecil.
-
Kapal penebar ranjau.
-
Aset asimetris lainnya yang berpotensi menutup rute perdagangan minyak global.
Laporan tersebut juga menyebutkan adanya rencana kampanye pemboman yang jauh lebih terkonsentrasi di wilayah krusial tersebut. Meski AS dan Israel telah melakukan gempuran sejak 28 Februari lalu, sebagian besar rudal pertahanan Iran dilaporkan masih utuh, yang menjadi tantangan berat bagi militer AS.
Dilema Risiko di Meja Donald Trump
Kendati potensi serangan militer AS diprediksi bakal masif, seorang sumber memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak akan serta-merta terbuka bagi navigasi internasional.
“Kecuali Anda bisa membuktikan secara tegas bahwa 100 persen kemampuan militer Iran hancur, atau AS bisa mengurangi risiko dengan kemampuan kita,” ujar sumber tersebut kepada CNN, Jumat (24/4/2026).
Keputusan akhir kini berada di tangan Presiden Donald Trump. “Semuanya akan bergantung pada seberapa besar [Trump] bersedia menerima risiko dan mulai mengirimkan kapal melalui selat,” tambahnya.
Baca Juga:
Selain target militer, AS juga mempertimbangkan serangan terhadap infrastruktur multifungsi, termasuk fasilitas energi, demi memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Targetkan Komandan Tertinggi IRGC
Yang mengejutkan, rencana ini tidak hanya menyasar alutsista. Perencana militer AS disebut-sebut mempertimbangkan untuk menargetkan pemimpin militer Iran secara individu yang dianggap menjadi penghalang negosiasi.
Nama Ahmad Vahidi, Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dikabarkan masuk dalam daftar target tersebut. Trump sendiri sempat menyinggung adanya “perpecahan” internal di Iran antara pihak IRGC dan para negosiator sebagai penghambat tercapainya kesepakatan.
Sikap Pentagon dan Menhan Pete Hegseth
Menanggapi kabar ini, Kementerian Pertahanan AS memilih untuk tetap diplomatis namun tegas.
“Karena alasan keamanan operasional, kami tidak membahas pergerakan di masa depan atau yang bersifat hipotetis,” kata sumber di Pentagon. “Militer AS terus memberikan opsi kepada Presiden, dan semua opsi tetap terbuka.”
Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth pekan lalu telah memberikan peringatan keras. Ia mengancam akan menyerang fasilitas rudal, peluncur, hingga pabrik produksi Iran jika Teheran terus menolak kesepakatan damai.
Meskipun Trump disebut lebih memilih solusi diplomatik untuk menghindari perang terbuka, sumber internal mengakui bahwa kesabaran Washington ada batasnya. Militer AS kini dalam posisi “siap tempur” jika perintah menyerang benar-benar turun.






