Jambi, Portalone.net – Kemenangan tipis 1-0 Tim Nasional Inggris atas Selandia Baru dalam laga uji coba di Stadion Raymond James, Sabtu (6/6/2026), memang menjadi suntikan moral berharga jelang Piala Dunia 2026. Namun, di balik gol tunggal Harry Kane, sebuah kritik tajam justru mengemuka dari legenda Manchester United, Roy Keane.
Gol kemenangan The Three Lions tercipta sesaat sebelum turun minum melalui sundulan akurat Kane, yang menyambut umpan silang matang dari Djed Spence. Kemenangan ini menandai start positif skuad asuhan Thomas Tuchel di tanah Amerika Utara.
Meski menjadi pembeda di lapangan, performa sang kapten tetap memancing diskursus di kalangan pengamat. Roy Keane, yang bertugas sebagai analis di ITV, memberikan peringatan keras terkait gaya bermain Kane yang dianggap kontraproduktif bagi ambisi juara Inggris.
Masalah “Turun ke Tengah”
Keane mengakui kapasitas Kane sebagai salah satu penyerang tengah terbaik di dunia saat ini. Namun, ia merasa ada kebiasaan lama yang harus segera dihentikan oleh penyerang Bayern Munchen tersebut: kebiasaan menjemput bola hingga ke sektor tengah lapangan.
“Dengan segala pengalamannya, ia harus lebih bijaksana dalam membaca permainan. Dia tidak perlu mundur melewati garis tengah hanya untuk mengirim operan-operan pendek,” tegas Keane.
Gaya bermain “penyerang menjemput bola” ini memang telah menjadi identitas Kane sejak era Jose Mourinho di Tottenham Hotspur. Meski kerap memanjakan pemain sayap dengan visi umpan yang brilian, Keane menilai Inggris kini memiliki komposisi lini tengah yang cukup mumpuni untuk mendistribusikan bola.
Fokus di Area Terlarang
Menurut pria asal Irlandia tersebut, kunci kesuksesan Inggris di Piala Dunia 2026 bergantung pada disiplin posisi Kane. Baginya, Inggris tidak membutuhkan Kane sebagai kreator di lini tengah, melainkan sebagai sosok predator yang statis di dalam kotak penalti lawan.
“Ada cukup banyak pemain berkualitas di tim ini yang bisa melakukan tugas mengalirkan bola. Kamu adalah yang terbaik di dunia saat ini, tugasmu adalah berada di dalam kotak penalti,” ujar Keane.
Ujian Berat Menanti
Bagi Tuchel, masukan dari Keane merupakan evaluasi krusial. Jika Inggris ingin mengakhiri dahaga trofi di Piala Dunia 2026, efektivitas di depan gawang akan menjadi faktor penentu.
Apakah Kane akan mendengarkan saran tersebut dan mengubah perannya menjadi target man yang lebih statis, ataukah ia tetap mempertahankan gaya “nomor 9 setengah” yang selama ini melekat padanya? Jawaban tersebut mungkin baru akan terjawab saat Inggris melakoni laga sesungguhnya di turnamen akbar musim panas ini.
