Portalone.net – Amerika Serikat dan Iran secara resmi telah mencapai kesepakatan damai yang menandai berakhirnya ketegangan militer serta blokade yang selama ini menyelimuti kawasan Timur Tengah. Pengumuman ini disampaikan tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi rampungnya perundingan antara kedua negara.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa draf nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) telah diselesaikan sepenuhnya. Penandatanganan resmi dokumen yang disebut sebagai “Nota Kesepahaman Islamabad” tersebut dijadwalkan akan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang.
“Teks nota kesepahaman telah rampung. Komitmen ini akan mulai berlaku efektif pada hari Jumat,” ujar Gharibabadi melalui media pemerintah Iran.
Dalam pernyataannya, Gharibabadi menekankan bahwa capaian diplomatik ini tidak terlepas dari posisi tawar militer yang dimiliki Iran. Ia memastikan bahwa Teheran akan segera menghentikan seluruh operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon dan wilayah Teluk.
Lebih lanjut, Gharibabadi merinci dua poin utama yang akan segera diimplementasikan mulai hari ini:
-
Penghentian permanen permusuhan militer di semua front.
-
Pencabutan segera blokade laut yang sebelumnya diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran.
Langkah De-eskalasi di Selat Hormuz
Senada dengan pihak Iran, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut telah final. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan kepuasannya atas tercapainya diplomasi ini.
Sebagai tindak lanjut, Trump menginstruksikan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk segera mencabut blokade di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa arus logistik energi global harus kembali berjalan normal.
“Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir. Dengan ini, saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol dan memerintahkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” tegas Trump.
Kesepakatan ini dipandang oleh berbagai pengamat internasional sebagai titik balik krusial yang diharapkan mampu menstabilkan kembali situasi geopolitik di Timur Tengah serta meredakan ketegangan di jalur perdagangan minyak dunia yang vital.
