Portalone.net – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot dibuka melemah pada perdagangan Senin (6/4/2026) pagi.
Melansir data perdagangan, mata uang Garuda berada di level Rp 16.995 per dollar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,09 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah pagi ini didorong oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah dan harga minyak mentah yang masih terus naik,” ujar Lukman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin.
Selain faktor konflik, penguatan indeks dollar AS juga dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat. Data Non-Farm Payroll (NFP) atau jumlah lapangan kerja baru di AS tercatat lebih kuat dari perkiraan pasar, sehingga memberikan tenaga bagi mata uang greenback.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 17.050 per dollar AS.
Pergerakan Mata Uang Asia dan Negara Maju
Berbeda dengan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru terpantau bergerak di zona hijau pagi ini:
-
Baht Thailand: Menguat 0,16 persen
-
Won Korea Selatan: Menguat 0,11 persen
-
Yuan China: Menguat 0,05 persen
-
Yen Jepang: Menguat 0,01 persen
-
Dollar Hong Kong: Menguat 0,01 persen
Namun, beberapa mata uang Asia lainnya senasib dengan rupiah, seperti Peso Filipina yang anjlok 0,51 persen dan Dollar Singapura yang melemah 0,05 persen.
Sementara itu, mata uang negara maju terpantau kompak berada di zona merah. Franc Swiss memimpin pelemahan sebesar 0,17 persen, disusul Euro Eropa (0,10 persen), dan Poundsterling Inggris (0,08 persen). Adapun Dollar Australia dan Dollar Kanada keduanya melemah tipis 0,01 persen.
