Akhirnya! AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata 2 Pekan, Selat Hormuz Kembali Dibuka

Amerika Serikat dan Iran akhirnya sepakat gencatan senjata selama dua pekan setelah berperang sejak 28 Februari lalu, Rabu (8/4). (Foto: AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Portalone.net – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya sedikit mereda. Setelah terlibat peperangan sengit sejak 28 Februari lalu, kedua negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua pekan mulai Rabu (8/4/2026).

Kesepakatan ini tercapai setelah Presiden AS Donald Trump setuju untuk menunda serangan terbaru ke Iran. Sebagai imbalannya, Teheran berkomitmen untuk mulai membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Iran Klaim Menang, Trump Sebut Target Tercapai

Pihak Iran menyambut baik kesepakatan ini dan melabelinya sebagai sebuah “kemenangan”. Hal ini dikarenakan Donald Trump akhirnya menyetujui 10 poin tuntutan yang diajukan Teheran sebagai syarat gencatan senjata.

Di sisi lain, Trump tak mau kalah klaim. Melalui media sosialnya, ia menyatakan bahwa gencatan senjata ini terjadi justru karena militer AS telah berhasil melampaui target operasinya.

“Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah,” tulis Trump.

“Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang di Timur Tengah,” imbuhnya.

Balik Badan dari ‘Zaman Batu’

Keputusan Trump ini terbilang mengejutkan dan terkesan mendadak. Pasalnya, sebelum kesepakatan diteken, Trump terus melontarkan retorika panas. Ia sempat mengancam akan melancarkan invasi darat, menjadikan Iran “neraka”, hingga sesumbar akan membuat Iran kembali ke “Zaman Batu”.

Trump yang sebelumnya menilai tuntutan Iran tidak masuk akal, tiba-tiba melunak di detik-detik terakhir tenggat waktu ultimatum yang ia buat sendiri.

Mengapa Trump Akhirnya ‘Menyerah’?

Pakar kebijakan luar negeri Iran dari Quincy Institute, Trita Parsi, menilai Trump sebenarnya tidak punya banyak pilihan. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Parsi menyebut perang yang lebih luas melawan Iran justru bisa menghancurkan kursi kepresidenan Trump.

“Ia menghadapi tekanan besar dari PBB hingga sekutu di Eropa. Tidak ada satu pun negara sekutu yang mendukung serangan balasan terhadap Iran,” ujar Parsi.

Selain itu, ada beberapa faktor krusial yang diduga membuat Trump melunak:

  • Ancaman Krisis Energi: Jika AS terus menyerang infrastruktur Iran, Teheran diyakini akan membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Arab, yang bisa memicu krisis energi global yang sangat parah.

  • Tekanan Dalam Negeri: Trump menghadapi tuduhan penyalahgunaan wewenang karena melancarkan serangan tanpa izin luas dari Kongres.

  • Ancaman Pemakzulan: Muncul gelombang desakan pemakzulan (impeachment) terhadap Trump menyusul ancaman-ancaman eskalasi militernya yang dinilai membahayakan stabilitas dunia.

Parsi menilai, berbagai ancaman “Zaman Batu” yang diteriakkan Trump sebelumnya hanyalah gertakan untuk menutupi posisinya yang sedang terdesak.

“Ia perlu keluar dari situasi ini. Ancaman itu bertujuan memberi kesan bahwa kesepakatan ini hasil tekanannya. Padahal, negosiasi ini justru didasarkan pada rencana 10 poin dari pihak Iran yang lebih rasional,” pungkas Parsi.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *