- menunjukkan keberpihakan,
- mencari afiliasi,
- menjaga status dalam kelompok.
Ini memunculkan fenomena “motivated reasoning”: orang menilai bukti bukan untuk menemukan yang benar, tetapi untuk mempertahankan posisi yang sudah diambil. Koreksi fakta sering diterima sebagai serangan identitas, sehingga muncul respons defensif (menyerang balik, menggeser topik, atau mendiskreditkan sumber).
6. Emosi sebagai Kompas Epistemik
Budaya online memfasilitasi respons emosional instan. Secara kognitif, emosi dapat membantu pengambilan keputusan, tetapi menjadi problematik ketika dipakai sebagai standar kebenaran:
- “Kalau membuat marah, berarti salah,”
- “Kalau sesuai nilai saya, berarti benar.”
Dalam kajian literasi media, ini terkait dengan rendahnya kemampuan membedakan:
- reaksi afektif (perasaan terhadap informasi) dan
- evaluasi evidensial (kekuatan bukti).
Akibatnya, klaim yang memicu emosi kuat lebih mudah dianggap “pasti benar”.
7. Normalisasi Anti-Intelektualitas Ringan
Di banyak konteks, muncul norma sosial yang meremehkan proses berpikir mendalam:
- membaca panjang dianggap “kebanyakan teori,”
- kehati-hatian dianggap “tidak tegas,”
- mengaku tidak tahu dianggap “lemah.”
Padahal, dalam tradisi akademik, kemampuan mengatakan “saya belum cukup data” adalah indikator kedewasaan intelektual. Normalisasi anti-intelektualitas ini membuat masyarakat semakin jarang melatih keterampilan: menyusun argumen, memeriksa asumsi, dan menguji bukti.
8. Mengapa Terasa “Makin Parah”?
Ada dua alasan tambahan mengapa fenomena ini terasa meningkat:
- Visibility bias: konten ekstrem, salah, atau memancing emosi lebih menonjol di feed.
- Amplification effect: kesalahan yang dulu lokal kini terdokumentasi, disebar, dan diperkuat lintas komunitas.
Jadi, bukan semata jumlah orang yang “lebih buruk,” melainkan mekanisme penyebaran dan penguatan perilaku kognitif yang bermasalah menjadi jauh lebih efektif.
Secara akademik, persepsi bahwa “orang sekarang makin bodoh” lebih tepat dipahami sebagai penurunan kualitas penalaran publik akibat kombinasi overload informasi, insentif platform, dominasi heuristik, polarisasi identitas, dan norma sosial yang tidak mendukung verifikasi. Ini adalah masalah struktural-kultural, bukan sekadar problem “orangnya.”
Implikasi dan Rekomendasi Singkat
Untuk memperbaiki kualitas berpikir publik, intervensi yang relevan meliputi:
- literasi media (verifikasi, cek sumber, konteks),
- pembiasaan “slow thinking” (menunda respons, membaca utuh),
- desain platform yang menekan misinformasi dan clickbait,
- penguatan norma diskusi: argumen berbasis bukti, bukan serangan personal,
- pendidikan yang melatih penalaran (bukan sekadar hafalan).
Pada akhirnya, tantangan era ini bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan disiplin epistemik: kebiasaan kolektif untuk memeriksa, menimbang, dan bersedia merevisi keyakinan. (one)













