Portalone.net – Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (12/10). Penurunan ini dipicu oleh optimisme pasar atas potensi bertambahnya pasokan energi global, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan klaim kesepakatan gencatan senjata fasilitas energi antara Rusia dan Ukraina.
Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah berjangka jenis Brent terperosok US$1,37 (1,31%) ke level US$103,35 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$1,30 (1,42%) ke posisi US$90,55 per barel.
Sentimen utama pelemahan harga bersumber dari pengumuman mendadak Trump pada Minggu (11/10) mengenai gencatan senjata energi antara Moskow dan Kyiv. Langkah tersebut menyusul ditekennya kesepakatan pasokan solar antara AS dan Rusia pada Jumat (9/10).
Kendati demikian, pasar masih menunjukkan sikap hati-hati dan skeptis. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan masih menanti rincian teknis dari kesepakatan tersebut, sementara pihak Rusia belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Analis Utama KCM Trade, Tim Waterer, menilai sinyal damai ini efektif meredakan ketegangan pasokan dalam jangka pendek. Namun, tanpa bukti keberlanjutan yang konkrit, ruang penurunan harga dinilai masih terbatas.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menjaga harga Brent tetap berada di atas level US$100 per barel. Serangan drone terhadap Bandara Internasional Riyadh yang diklaim oleh Kelompok Houthi menewaskan 13 orang, disusul ancaman intervensi militer langsung dari AS, kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan regional.
Menanggapi ketidakpastian global yang masih tinggi, lembaga keuangan Goldman Sachs merevisi proyeksi harga komoditas energi:
-
Brent: Proyeksi periode Desember dikerek naik menjadi US$90 per barel dari estimasi sebelumnya sebesar US$85 per barel.
-
WTI: Diproyeksikan berada di rata-rata US$81 per barel pada Desember 2026, sebelum melandai ke level US$73 per barel pada tahun 2027.
Di sisi lain, pemulihan pasokan mulai terlihat dari Teluk Meksiko, di mana perusahaan energi besar seperti Shell, Chevron, dan BP mulai memulihkan produksi serta memulangkan para pekerja ke anjungan lepas pantai pasca-terjangan Badai Isaias akhir pekan lalu.
