Portalone.net – Pasar minyak mentah global mengalami koreksi tajam pada awal pekan, Senin (2/11/2026). Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari tujuh persen, dipicu oleh sinyal positif dari pembicaraan tingkat tinggi antara pejabat Iran dan Qatar yang menumbuhkan harapan meredahnya konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka terkoreksi 7,63 persen ke level USD104,77 per barel, dengan sempat menyentuh level terendah sesi di posisi USD103,28. Penurunan serupa dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang merosot 7,36 persen ke level USD96,46 per barel, setelah sempat menyentuh titik terendah di USD95,15.
Koreksi ini terjadi setelah Brent sempat menutup perdagangan Oktober pada level tertinggi dalam enam bulan terakhir akibat kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Pembalikan arah pasar ini didorong oleh pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk membuka ruang perundingan damai. Teheran menyatakan niatnya untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur dialog menyusul serangkaian pertemuan maraton dengan mediator asal Qatar.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya turut memberikan sinyal terbuka dengan menyatakan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan damai. Pada Senin malam, delegasi mediator Qatar bahkan dilaporkan terbang langsung ke Teheran untuk berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi guna mematangkan potensi kesepakatan bilateral dengan Washington.
Kendati demikian, para pengamat pasar menyerukan kehati-hatian. Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menilai tanda-tanda kemajuan diplomasi ini memang menjadi katalis penurunan harga, namun pasar tetap memerlukan skeptisisme sehat mengingat tingginya volatilitas dan “harapan palsu” yang kerap terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Senada dengan itu, Analis UBS Giovanni Staunovo mencatat bahwa pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap setiap perkembangan informasi dari Timur Tengah. “Meskipun kekhawatiran eskalasi sempat mendorong harga naik pekan lalu, harga turun tajam seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik,” ujarnya.
Di tengah meredanya ketegangan geopolitik sementara, para pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Dinamika politik domestik AS tersebut diprediksi bakal menambah volatilitas harga energi dalam beberapa pekan ke depan.
Saxo Bank dalam risetnya memperkirakan harga minyak mentah ke depan akan bergerak dalam rentang USD70 hingga USD90 per barel bahkan setelah konflik mereda, angka yang lebih tinggi dibandingkan kisaran pra-perang di level USD60 hingga USD70 per barel.
Dari sisi fundamental pasokan, tantangan global masih membayangi. Kepala Eksekutif ADNOC, Sultan Al Jaber, mengungkapkan bahwa perang yang pecah sejak akhir Februari 2026 telah menguras cadangan minyak global hingga hampir 1 miliar barel akibat gangguan pengiriman di Selat Hormuz. Goldman Sachs dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa harga Brent berpotensi melonjak hingga USD140 pada 2027 jika produksi kawasan Teluk terus bertahan di bawah rata-rata normal.
Di sisi lain, peningkatan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Oktober meski di tengah ancaman keamanan serta gangguan produksi domestik di Libya akibat penutupan katup pipa Hamada (sekitar 15.000 barel per hari) turut menjadi faktor penyeimbang di pasar. Sementara itu, di Amerika Serikat, jumlah rig aktif terpantau bertambah dua unit di tengah laporan kenaikan produksi bulanan oleh EIA.
Dengan kombinasi faktor risiko geopolitik, jalur diplomasi AS-Iran, serta dinamika pasokan-permintaan global, arah pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat ditentukan oleh konsistensi perdamaian di Timur Tengah serta hasil konstelasi politik di Washington.
