Arab Saudi Cari Dukungan Mesir di Tengah Ancaman Houthi dan Lonjakan Harga Minyak

Momen kunjungan Pangeran Saudi MbS ke Kairo bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada Selasa (15/9). (Arabnews)

Portalone.net – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) menemui Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo pada Selasa (15/9), guna menggalang dukungan strategis dalam menghadapi peningkatan serangan kelompok Houthi Yaman. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran global atas terganggunya jalur pelayaran internasional dan lonjakan harga minyak mentah.

Pertemuan tingkat tinggi tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga keamanan navigasi maritim di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Meski demikian, kedua pemimpin belum merinci bentuk konkret maupun langkah operasional lanjutan dari dukungan tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok Houthi yang diidentifikasi mendapat dukungan dari Iran dilaporkan memperluas pengaruh territorial di Yaman. Mereka merebut pelabuhan strategis Mokha di Laut Merah serta tiga pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, yang berfungsi ganda sebagai jalur utama ekspor minyak Asia dan gerbang vital perdagangan global.

Situasi keamanan semakin memanas setelah serangan terhadap infrastruktur vital Saudi merusak Jalur Pipa Timur-Barat. Kerusakan ini memaksa fasilitas tersebut ditutup sebagian besar selama beberapa pekan untuk perbaikan, yang berpotensi memangkas pasokan minyak global hingga jutaan barel per hari serta menghentikan sementara pengiriman alternatif melalui jaringan pipa dan Terusan Suez Mesir.

Bagi Riyadh, merespons agresi ini merupakan sebuah dilema. Operasi militer berskala besar dikhawatirkan justru memicu serangan balasan terhadap instalasi minyak domestik serta menyeret kembali kerajaan tersebut ke dalam pusaran perang saudara Yaman. Di sisi lain, opsi diplomatik berjalan di tengah sikap sekutu utama, Amerika Serikat, yang dinilai cenderung berhati-hati di bawah kepintahan Presiden Donald Trump jelang pemilu Kongres, serta absennya Uni Emirat Arab yang telah menarik diri dari koalisi.

Mesir sendiri memiliki kepentingan langsung dalam meredam konflik ini. Penurunan lalu lintas kapal di Terusan Suez akibat gangguan keamanan di Laut Merah telah memukul pendapatan negara tersebut.

Analis kawasan, HA Hellyer, menilai bahwa MbS tidak berharap Mesir mengerahkan pasukan militernya secara langsung ke medan Perang Yaman. Kairo diproyeksikan lebih memfokuskan perannya pada diplomasi kawasan, mengingat posisinya yang selama tiga tahun terakhir menjadi pusat mediasi konflik serta rekam jejaknya dalam menjaga saluran komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Iran.

Di forum global, Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memperketat embargo senjata terhadap Houthi dan mengutuk eskalasi konflik yang terjadi.

“Apakah komunitas internasional akan menerima jika salah satu gerbang terpenting dunia untuk perdagangan dan energi menjadi alat pemerasan di tangan kelompok teroris transnasional?” ujar Al-Saadi di hadapan Dewan Keamanan PBB, Selasa (15/9).

Hingga kini, di tengah tekanan pasar energi global dan ancaman rantai pasok, Arab Saudi dan sekutunya masih menimbang langkah komprehensif untuk memulihkan stabilitas kawasan tanpa memicu eskalasi yang lebih luas.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan