Portalone.net – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meluncurkan fitur Poket Rupiah di aplikasi myBCA. Fitur ini memungkinkan nasabah membuat hingga 20 “poket” dalam satu rekening untuk memisahkan alokasi dana sesuai kebutuhan, mulai dari menabung hingga mengatur pengeluaran.
BCA menyatakan fitur Poket Rupiah berlaku efektif per 18 Desember 2025. Melalui fitur ini, nasabah dapat mengelola dana dalam satu rekening dengan beberapa kantong terpisah agar pengaturan keuangan lebih rapi.
Bisa Auto Top Up, Personalisasi, hingga Kunci Poket
BCA menjelaskan, Poket Rupiah memiliki sejumlah keunggulan, antara lain:
-
Multi alokasi untuk berbagai tujuan dalam satu rekening, serta tersedia auto top up agar setoran rutin bisa berjalan otomatis.
-
Personalisasi: poket dapat diberi nama, diatur target tabungan, serta dilengkapi pilihan ikon.
-
Kunci Poket: nasabah dapat mengunci Poket Rupiah melalui myBCA untuk membantu disiplin menabung. Jika diperlukan, kunci dapat dibuka di ATM atau kantor cabang BCA.
-
Fleksibel: dana di Poket Rupiah dapat ditarik kapan saja tanpa penalti.
Sub-rekening di bawah rekening induk
Dalam informasi produk BCA, Poket Rupiah dijelaskan sebagai sub-rekening yang terhubung ke rekening induk. Nasabah bisa membuat maupun menutup poket melalui myBCA.
BCA juga menyebut transaksi dengan sumber atau tujuan dana Poket Rupiah hanya dapat dilakukan melalui myBCA, sementara informasi mutasi/e-statement terkonsolidasi dengan rekening induk.
BCA mencantumkan rekening induk yang dapat digunakan untuk membuat Poket Rupiah, yakni Tahapan, Tahapan Gold, Tapres, dan Tahapan Xpresi (dalam mata uang rupiah).
Pos terkait
Catat! Jadwal Operasional BI dan Perbankan Selama Libur Lebaran 2026
Pasar Keuangan RI Berdarah! Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dollar AS
Harga Minyak Dunia Akhirnya Turun, Intervensi AS dan Minyak Rusia Jadi Pemicu
IHSG Memerah! Perang Iran-Israel dan ‘Ulah’ Trump Jadi Biang Kerok
Eskalasi Timur Tengah Memanas, Harga Emas Spot Sentuh US$ 5.278 dan Minyak Berpotensi ‘Gap Up’
Pasar Kripto Diguncang Isu Tarif AS & Konflik Timur Tengah, Investor Disarankan ‘Wait and See’







