Eskalasi Timur Tengah Memanas, Harga Emas Spot Sentuh US$ 5.278 dan Minyak Berpotensi ‘Gap Up’

Ilustrasi emas batangan. (Pixabay)

Portalone.net – Pasar keuangan global bersiap menghadapi volatilitas tinggi menyusul serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Sentimen geopolitik ini memicu perburuan aset aman (safe haven), dengan harga emas spot meroket ke level US$ 5.278 per ons pada perdagangan Minggu (1/3/2026).

Langkah militer tersebut dilakukan setelah perundingan nuklir menemui jalan buntu, yang diperparah dengan laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Para analis memprediksi pasar akan dibuka dengan lonjakan harga (gap-up) pada Senin besok akibat kenaikan premi risiko yang signifikan.

Emas Menuju Rekor Tertinggi Baru

Berdasarkan data Trading View, meski harga saat ini berada di level US$ 5.278, emas sempat mencetak rekor historis di posisi US$ 5.608 per ons pada Januari 2026. Kepala Ekonom First Seafront Fund, Yang Delong, menilai emas tetap menjadi instrumen paling defensif di tengah ancaman perang terbuka.

“Pasar bersiap untuk respons penghindaran risiko (risk-off) klasik. Investasi pada logam mulia seperti emas dan perak memiliki potensi penguatan besar saat pembukaan pasar, seiring dengan meningkatnya premi risiko global,” ujar Yang Delong kepada Global Times.

Ancaman Pasokan Minyak dan Penutupan Selat Hormuz

Sektor energi turut menjadi perhatian utama investor. Harga minyak mentah Brent telah menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kekhawatiran utama pelaku pasar adalah penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, jalur krusial yang melayani sepertiga ekspor minyak mentah jalur laut dunia.

Data Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel per hari melintasi selat tersebut pada 2025. Reuters melaporkan sejumlah raksasa minyak mulai menghentikan pengiriman melalui jalur tersebut demi keamanan.

“Dalam skenario terburuk, jika fasilitas minyak di Teluk ikut terdampak, harga minyak dunia berpotensi mencetak lonjakan bersejarah melampaui US$ 130 per barel,” tulis laporan tersebut.

Proyeksi Sektoral bagi Investor

Peneliti Jiangsu Su Merchants Bank, Fu Yifu, dalam catatannya menyebutkan bahwa eskalasi ini akan memberikan dampak langsung pada pergerakan saham sektoral. Investor disarankan mencermati beberapa sektor yang berpotensi outperform dalam jangka pendek:

ADVERTISEMENT
  • Eksplorasi Migas & Jasa Perminyakan: Terdorong kenaikan harga komoditas energi.

  • Logam Mulia (Gold/Precious Metals): Sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian.

  • Industri Pertahanan (Defense): Meningkatnya permintaan alutsista global.

  • Batubara & Kimia Batubara: Menjadi alternatif substitusi energi saat pasokan minyak terganggu.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto terus menyuarakan deeskalasi dan menyatakan kesiapan untuk memediasi konflik guna meredam dampak ekonomi yang lebih luas bagi pasar domestik.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait