Pasar Kripto Diguncang Isu Tarif AS & Konflik Timur Tengah, Investor Disarankan ‘Wait and See’

Pergerakan harga Bitcoin ditengah gejolak konflik timur tengah. (Freepik)

Portalone.net – Gejolak pasar global tengah menghantui aset berisiko tinggi, termasuk kripto. Kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump dan memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai dalam situasi penuh ketidakpastian ini, sikap menahan diri atau wait and see adalah langkah paling rasional bagi para investor. Menurutnya, manajemen risiko jauh lebih penting ketimbang ambisi mengejar cuan jangka pendek.

“Bagi investor kripto, kondisi saat ini menuntut kehati-hatian lebih tinggi. Faktor makro seperti likuiditas global, arah suku bunga, dan sentimen risiko tetap menjadi pendorong utama harga Bitcoin,” ujar Calvin, dikutip Minggu (1/3/2026).

Pengaruh Kebijakan Trump dan Makro Ekonomi

Meskipun sebagian pelaku pasar sudah mengantisipasi putusan Mahkamah Agung (MA) terkait pembatalan tarif impor Trump, Calvin menegaskan bahwa arah pergerakan Bitcoin (BTC) tetap bergantung pada kondisi ekonomi makro.

Likuiditas global dan kebijakan suku bunga bank sentral menjadi variabel kunci yang menentukan deras tidaknya arus dana masuk ke aset kripto.

Strategi ‘De-risking’ Investor Institusi

Calvin menjelaskan, saat volatilitas global meningkat, investor institusi cenderung melakukan penyesuaian portofolio. Dalam fase yang disebut risk-off ini, manajer aset global biasanya melakukan de-risking.

“Manajer aset biasanya mengurangi alokasi pada aset berisiko tinggi, termasuk saham teknologi, emerging markets, dan kripto. Dana kemudian dialihkan ke kas, obligasi pemerintah AS, atau instrumen pasar uang yang lebih stabil,” paparnya.

ADVERTISEMENT

Beda Gaya Hedge Fund vs Asset Manager

Meski tekanan pasar menguat, respons tiap institusi tidaklah seragam:

  • Hedge Fund: Kelompok ini biasanya menggunakan leverage dan cenderung sangat cepat memangkas posisi saat volatilitas melonjak tajam.

  • Asset Manager & Korporasi: Institusi dengan visi jangka panjang atau yang menjadikan BTC sebagai strategi treasury cenderung lebih kalem. Mereka tidak akan bereaksi agresif kecuali ada perubahan fundamental pada likuiditas atau regulasi.

Kombinasi antara perang tarif yang memengaruhi inflasi serta konflik Timur Tengah yang berdampak pada harga energi, memaksa investor untuk lebih selektif. Di tengah ketidakpastian ini, menjaga modal tetap aman menjadi prioritas utama sebelum kembali masuk ke pasar kripto yang dikenal sangat fluktuatif.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait