Biasanya, kelapa dipanen setiap 3 bulan sekali, namun kini banyak yang memanen dalam interval 2,5 bulan. Tujuannya adalah untuk menjual kelapa sebelum harga semakin turun.
“Banyak yang panen lebih awal karena takut harga terus turun. Padahal, kalau dipanen terlalu cepat, kualitas kelapa bisa kurang optimal,” tambah Ufek.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kualitas kelapa yang dipasarkan. Panen dini berpotensi mengurangi kualitas produk, yang pada akhirnya bisa memengaruhi harga jual lebih lanjut.
Para pekerja dan petani berharap adanya intervensi dari pihak terkait untuk menstabilkan harga dan memberikan solusi atas kendala cuaca yang mereka hadapi.
Harapan ke depan, harga kelapa dapat kembali stabil dan cuaca lebih bersahabat agar proses panen dan pendapatan petani tidak terganggu. Selain itu, diperlukan edukasi kepada pekerja untuk tidak terburu-buru memanen kelapa demi menjaga kualitas produk dan keberlanjutan usaha perkebunan kelapa di masa mendatang. (remA)







