Informasi dari data Panel Harga Pangan nasional yang dikutip dari Bloomberg Technoz menunjukkan harga minyak goreng merek Minya Kita pada tanggal 3 Februari 2026 masih berada diharga sekitar Rp.17.254,- per liter atau 9,9% di atas HET pemerintah, sebelum bergerak turun ke kisaran harga Rp.16.700,- per liter, tetap sekitar 6% hingga 7% di atas HET.
Bapanas dan BPS menilai minyak goreng sebagai salah satu komoditas dengan level harga tinggi meski perubahan indeks pergerakan harganya relatif rendah, artinya harga cenderung berhenti di level atas meski tidak lagi naik secara tajam.
Dalam konteks Bulan Ramadan, ketika tingkat konsumsi makanan gorengan dan makanan berminyak meningkat tajam, maka kombinasi harga minyak goreng yang tinggi menjadi salah satu contoh kecil karena di kalangan keluarga mereka cenderung mengurangi komponen lauk dan sayur pada saat berbuka puasa.
Produksi Beras Nasional Meningkat Tetapi Harga Tetap Tinggi
Informasi dari BPS Nasional yang dikutip dari Kementerian Pertanian mencatat produksi beras nasional sepanjang perioode bulan Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, naik lebih dari 13% dibanding tahun 2024, dengan proyeksi tambahan produksi 6,23 juta ton pada periode bulan Desember 2025 hingga Februari 2026.
Data ini mengindikasikan stok beras nasional menghadapi bulan Ramadan 2026 jauh lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya, sehingga tekanan harga seharusnya dapat diantisipasi secara tepat. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras yang semula dirancang untuk tahun 2025 diperpanjang hingga 31 Januari 2026 guna memastikan harga beras tetap terkendali di awal tahun, dengan penyaluran melalui pasar rakyat, ritel modern, koperasi, dan program Gerakan Pangan Murah.
Data yang diambi dari Bapanas mencatat harga beras SPHP di awal bulan Februari 2026 berada sekitar Rp.12.400,- hingga Rp.12.500,- per kilogram pada tingkat konsumen, sedikit menurun dibanding beberapa hari sebelumnya, dimana hal lain beras kualitas medium dan premium tetap lebih mahal dan di beberapa wilayah di Indonesia masih berada di atas HET.
Kebijakan Pemerintah, Respons Masyarakat dan Risiko Bulan Ramadan 2026
Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mengeklaim stabilitas harga pangan di awal tahun 2026 sebagai “modal awal” memasuki Bulan Ramadan Tahun 2026, melalui strategi penguatan pemantauan harga, penyaluran SPHP, program bantuan pangan (beras dan minyak goreng), distribusi pangan lancar dan program Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah.
BPS mengingatkan bahwa setiap awal Bulan Ramadan dalam lima tahun terakhir selalu diwarnai kenaikan harga bahan pangan tertentu, dan untuk Bulan Ramadan tahun 2026 mereka secara spesifik menyebut beras, minyak goreng, dan cabai rawit sebagai komoditas yang harus diantisipasi secepatnya.
Fakta yang ada di lapangan, gap antara HAP/ HET dan harga riil untuk cabai rawit merah serta Minya Kita dan ditambah dengan harga beras yang belum kembali ke level normal seperti yang dirasakan oleh masyarakat, menjadi tanda bahwa Bulan Ramadan tahun 2026 masih akan menjadi ujian bagi daya beli rumah tangga dan kecepatan tanggapan kebijakan pangan dari pemerintah.







