Portalone.net – Harga minyak mentah dunia akhirnya mencatatkan penurunan untuk pertama kalinya dalam enam hari terakhir pada perdagangan Jumat (6/3/2026). Melandainya harga emas hitam ini terjadi setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan intervensi pasar untuk meredam lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent terkoreksi sebesar 1,14 dollar AS atau 1,33 persen ke level 84,27 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,46 dollar AS atau 1,8 persen menjadi 79,55 dollar AS per barel.
Penurunan ini menjadi napas lega bagi pasar global, mengingat sejak perang pecah, harga Brent telah melonjak hingga 18 persen dan WTI melambung 21 persen.
Rencana Intervensi Pasar Futures
Pemicu utama koreksi harga ini adalah pernyataan pejabat senior Gedung Putih pada Kamis (5/3/2026). Departemen Keuangan AS dikabarkan tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menekan harga energi, termasuk kemungkinan intervensi langsung ke pasar futures (berjangka) minyak.
Langkah ini dinilai tidak biasa. Pasalnya, Washington biasanya berupaya memengaruhi harga melalui penambahan pasokan fisik (cadangan minyak strategis), bukan melalui mekanisme pasar keuangan. Namun, rincian teknis mengenai intervensi ini belum diumumkan secara detail ke publik.
“Lampu Hijau” untuk Minyak Rusia
Selain rencana intervensi, AS juga mengambil kebijakan pragmatis dengan memberikan dispensasi kepada sejumlah kilang di India untuk membeli minyak mentah dari Rusia.
Sebelumnya, AS gencar menekan New Delhi agar menghentikan pembelian minyak dari Moskow sebagai bagian dari sanksi ekonomi. Namun, demi menjaga stabilitas pasokan global yang terganggu akibat perang di Timur Tengah, Washington kini mengizinkan pemanfaatan minyak Rusia yang sempat tertahan di kapal-kapal tanker.
“Kilang-kilang India mulai membeli jutaan barel minyak mentah Rusia dengan pengiriman cepat,” ujar salah satu sumber industri kepada Reuters.






