Portalone.net – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memakan korban jiwa dari warga sipil asing. Dua Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan milisi Houthi Yaman yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu (11/10).
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengonfirmasi insiden tersebut pada Selasa (13/10), menyatakan bahwa kedua WNI tersebut menderita luka ringan. Selain fasilitas penerbangan sipil, gelombang serangan Houthi juga menargetkan infrastruktur vital global, termasuk fasilitas kilang minyak milik raksasa energi Saudi Aramco di mana sebuah gedung administrasinya sempat mengalami kebakaran berskala kecil akibat hantaman proyektil.
Rentetan serangan udara beruntun ini membuat Riyadh kewalahan. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) dikabarkan telah dua kali menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung guna meminta intervensi dan bantuan militer penuh dalam menghadapi gempuran Houthi.
Langkah diplomasi serupa juga ditempuh oleh Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, yang membujuk mitranya di Washington, Menhan AS Pete Hegseth. Kendati demikian, Gedung Putih secara tegas menolak permohonan tersebut. Sikap dingin Washington didasari oleh fokus utama pemerintahan Trump yang saat ini terpusat pada konflik terbuka AS dengan Iran yang berkecamuk sejak Februari lalu.
Di sisi lain, dinamika geopolitik kawasan kian kompleks menyusul laporan mengenai adanya komunikasi terselubung antara Washington dan kelompok Houthi. Mantan Wakil Duta Besar AS untuk Yaman, Nabeel Khoury, mengungkapkan adanya “kesepahaman diam-diam” di mana Houthi memberikan jaminan keamanan navigasi bagi kapal-kapal internasional dan Amerika Serikat di Laut Merah, dengan catatan sasaran serangan tetap dibatasi pada kepentingan Saudi.
Temuan ini diperkuat oleh laporan Reuters yang menyebutkan bahwa para pejabat tinggi AS telah melakukan pertemuan rahasia dengan perwakilan Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, pada pertengahan September lalu. Pertemuan yang difasilitasi oleh pemerintah Oman tersebut berlangsung tak lama setelah milisi yang didukung Iran itu merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah.
Meskipun pemerintahan Trump secara resmi menetapkan Houthi sebagai “organisasi teroris asing” pada Maret 2025, Washington tetap membuka kanal dialog langsung. Wakil Presiden JD Vance mengonfirmasi adanya kontak aktif antara pemerintahannya dengan kelompok tersebut.
Dalam pertemuan terbaru di Oman, pihak Houthi menegaskan kembali komitmen mereka untuk tidak melancarkan serangan terhadap aset maupun kapal-kapal berbendera Amerika Serikat, serta tetap mematuhi kerangka gencatan senjata yang telah disepakati bersama Washington sejak Mei tahun lalu.