Portalone.net – Nasib pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menghadapi ujian krusial pada pemilihan sela (midterm elections) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 November mendatang. Ajang ini diproyeksikan menjadi penentu keseimbangan kekuasaan di Washington serta arah kebijakan sisa masa jabatan kedua sang presiden.
Dalam pemilu paruh waktu ini, seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 35 dari total 100 kursi Senat, serta 39 kursi gubernur diperebutkan oleh dua partai besar. Saat ini, Partai Republik yang menjadi pendukung utama Trump memegang mayoritas tipis di DPR dengan 218 kursi dan Senat dengan 53 kursi, sementara sisanya dikuasai oleh Partai Demokrat.
Berdasarkan analisis lembaga kajian Chatham House, hasil pemilu sela ini akan sangat memengaruhi kapasitas pemerintahan Trump dalam menjalankan roda kekuasaan, tingkat kontrol oposisi di parlemen, serta potensi risiko politik yang menyertainya.
Ancaman kehilangan mayoritas bagi Partai Republik tidak terlepas dari merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Trump, yang kini berada di titik terendah dalam sejarah karier politiknya. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Trump hanya berada di angka 32 persen.
Kekecewaan pemilih mayoritas didorong oleh persoalan ekonomi domestik khususnya lonjakan biaya hidup serta penanganan kebijakan luar negeri terkait konflik dengan Iran. Tercatat hanya 17 persen responden yang memberikan apresiasi terhadap penanganan isu biaya hidup oleh pemerintahan Trump. Survei daring yang melibatkan 1.277 responden dewasa tersebut juga menunjukkan adanya penurunan dukungan yang tajam di internal simpatisan Partai Republik sendiri.
Dinamika ini turut tercermin dalam proyeksi jajak pendapat NBC News, di mana 52 persen pemilih menyatakan lebih menginginkan DPR AS dikendalikan oleh Partai Demokrat, berbanding 43 persen yang memilih Partai Republik. Analisis NBC News Decision Desk memperkirakan Partai Demokrat berpotensi menambah perolehan kursi, mulai dari beberapa hingga puluhan kursi, tergantung pada dinamika nasional.
Kendati sentimen nasional cenderung menekan kubu petahana, Partai Republik dinilai masih memiliki peluang untuk mempertahankan posisinya atau setidaknya membatasi kemenangan besar Demokrat berkat keuntungan geografis dari peta distrik hasil redistribusi wilayah yang didukung kubu Trump.
Sebagian besar kursi yang saat ini dipegang oleh Partai Republik berada di distrik-distrik yang dimenangkan oleh Trump dengan keunggulan dua digit pada pemilihan presiden 2024 lalu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Partai Demokrat harus bekerja ekstra keras menjangkau basis pemilih di wilayah-wilayah yang secara tradisional menjadi lumbung suara Trump.
Para pengamat menilai, meski konstelasi politik nasional memegang pengaruh besar, karakteristik unik di setiap distrik, isu lokal yang dekat dengan pemilih, serta kekuatan status petahana (incumbency) masih akan menjadi variabel penentu utama di balik bilik suara pada 3 November mendatang.

