Portalone.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons kecurigaan internasional terkait dugaan pengembangan senjata biologis di Rusia, menyusul kematian misterius seorang staf laboratorium di Siberia akibat infeksi yang diduga penyakit pes (plague).
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (7/10), Trump menyatakan pihaknya belum melihat indikasi keterkaitan insiden tersebut dengan pengembangan senjata biologis, meski pemerintah AS akan terus memantau perkembangannya.
“Kami rasa tidak. Kita akan segera mengetahuinya, tapi kami rasa tidak,” ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Trump menambahkan bahwa otoritas Rusia telah memastikan situasi di Siberia saat ini berada dalam kendali penuh. Ia berharap Moskow mampu mengelola krisis kesehatan tersebut dengan transparan dan profesional.
“Kami berharap sistem ini sangat canggih, sangat cerdas, dan mereka mengatakan semuanya terkendali dengan baik. Jadi kami berharap tidak demikian,” ucapnya.
Insiden ini bermula dari kematian Darya Shipilova (28), seorang staf perempuan di Institut Anti-Wabah Irkutsk, Siberia, yang meninggal dunia pekan lalu akibat infeksi misterius.
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan bahwa korban meninggal dunia setelah menderita pneumonia dengan “penyebab yang tidak diketahui”. Kendati sempat muncul laporan di tengah publik bahwa korban tak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bakteri pes sebelum jatuh sakit, pihak berwenang Rusia dengan tegas membantah klaim kecelakaan laboratorium tersebut.
Sebagai langkah antisipasi penyebaran, lebih dari 200 orang yang melakukan kontak erat dengan korban kini berada di bawah pengawasan medis ketat. Sebuah fasilitas rumah sakit yang sempat merawat korban juga telah dikarantina.
Dunia internasional merespons cepat situasi ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (7/10) secara resmi meminta informasi tambahan kepada pemerintah Rusia setelah muncul laporan adanya staf laboratorium lain yang turut terdeteksi mengalami gejala pneumonia misterius.
Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada Selasa (6/10) mengumumkan bahwa pihaknya tengah memantau situasi di Siberia secara cermat guna memastikan potensi risiko kesehatan global.
