Portalone.net – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas menyusul ancaman keras dari militer Iran. Teheran memperingatkan bahwa perang di kawasan tersebut dapat meluas secara masif apabila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melancarkan aksi militer.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, melalui platform media sosial X pada Sabtu (31/10). Ia menilai eskalasi konflik berisiko terjadi akibat tekanan dari pihak eksternal, dan menegaskan bahwa akhir dari konflik di kawasan tidak berada di tangan Washington.
“Jika presiden AS sekali lagi memulai petualangan militer di kawasan ini di bawah tekanan dan bujukan Zionis, kobaran perang tidak diragukan lagi akan meluas ke wilayah geografis yang jauh lebih luas,” ujar Akraminia, sebagaimana dikutip dari Anadolu.
Sebagai respons atas situasi ini, militer Iran menyatakan terus meningkatkan kesiapsiagaan tempur serta memantau secara ketat pergerakan militer AS. Teheran menilai rekam jejak diplomasi Trump kerap diwarnai ketidakpastian.
Peringatan keras Iran ini mengemuka di tengah laporan peningkatan aktivitas militer AS di Timur Tengah. Stasiun televisi Israel, KAN, melaporkan pada Kamis (29/10) bahwa Washington telah mengerahkan 10 pesawat kargo militer ke Israel, yang ditempatkan di pangkalan udara Ovda dan Nevatim di wilayah Negev selatan, di tengah persiapan dugaan serangan baru.
Selain ke Israel, sejumlah pesawat militer tambahan dilaporkan dikirim ke pangkalan-pangkalan strategis di Yordania, Arab Saudi, dan Qatar. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Gedung Putih maupun Pentagon terkait muatan maupun kepastian operasi tersebut, laporan intelijen menyebutkan bahwa militer AS tinggal menunggu lampu hijau untuk melancarkan operasi.
Sebagai langkah antisipasi pengamanan, Washington dikabarkan telah memindahkan sistem pertahanan rudal Patriot dari Texas guna memperkuat perisai udara di Timur Tengah. Pasukan AS di sejumlah wilayah rawan juga telah diinstruksikan untuk mengevakuasi diri, sementara kelompok penyerang kapal induk dan korps marinir dijadwalkan tiba di kawasan pada November ini.
Situasi keamanan yang kian rapuh ini terus dibayangi oleh kebuntuan diplomatik, terutama pasca penandatanganan nota kesepahaman antara Washington dan Teheran pada Juni lalu, yang hingga kini masih menyisakan perdebatan sengit terkait pengaturan keamanan dan kebebasan navigasi di jalur vital Selat Hormuz.
