AS Dikabarkan Rancang Penjualan Senjata Rp49 Triliun ke Israel, Picu Kecaman Politikus Lokal

Foto Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam KTT NATO di Ankara. (Win McNamee/Getty Images)

Portalone.net – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah menyiapkan paket penjualan senjata senilai US$2,8 miliar atau setara dengan sekitar Rp49 triliun kepada Israel. Rencana ini menuai sorotan tajam di tengah kritik keras dari dalam negeri atas skala dan dampak kemanusiaannya.

Seorang pejabat AS yang mengetahui perihal rencana tersebut mengungkapkan kepada kantor berita Reuters bahwa paket itu memuat 40.000 bom seberat 2.000 pon, yang terdiri dari 20.000 bom MK-84 dan 20.000 bom BLU-117. Komite-komite terkait di Kongres AS dilaporkan telah menerima informasi secara informal mengenai rencana transaksi ini.

Menurut laporan Associated Press (AP), sebagian besar pembiayaan paket tersebut akan disalurkan melalui skema Pembiayaan Militer Asing (Foreign Military Financing) AS. Program ini memungkinkan Israel membeli persenjataan buatan AS menggunakan dana yang sebagian besar ditanggung oleh pembayar pajak AS, menjadikannya salah satu proposal penjualan militer terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Usulan penjualan ini langsung memicu gelombang kritik dari para politikus dan figur publik Washington akibat dampaknya terhadap korban sipil di Gaza.

Komentator politik AS, Tucker Carlson, membandingkan volume amunisi tersebut dengan skala serangan udara historis pada masa Perang Dunia II. Melalui platform X, ia menyebut jumlah bom yang hendak dikirimkan nyaris melampaui operasi serangan udara terbesar di masa lalu.

“Jumlahnya mencapai 40.000 ton bom. Sebagai perbandingan, serangan udara terbesar AS selama Perang Dunia II yaitu ketika Angkatan Udara Kedelapan menyerang Berlin pada Maret 1945. Sebanyak 2.023 pesawat Sekutu yang terlibat menjatuhkan sekitar 3.000 ton bom. Itu 7,5 persen dari apa yang dikirim Trump ke Israel,” ujar Carlson, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor.

Carlson juga menyinggung Operasi Meetinghouse di Tokyo yang dikenal sebagai salah satu serangan bom paling destruktif dalam sejarah. Menurutnya, jumlah bom yang dikirimkan saat ini jauh melampaui skala operasi tersebut, seraya menekankan bahwa Israel tidak sedang terlibat dalam perang berskala global.

“Sulit untuk melebih-lebihkan skala kejahatan yang dilakukan pemerintah Israel di Gaza,” tulisnya.

Penolakan serupa datang dari Senat AS. Senator dari Partai Demokrat, Chris Van Hollen, secara terbuka berjanji akan menjegal rencana penjualan tersebut.

“Ini bukan mengutamakan kepentingan rakyat Amerika,” ujar Van Hollen. “Kami akan berupaya untuk menghentikannya.”

Rencana penjualan senjata skala besar ini mencuat di tengah situasi kemanusiaan yang kian memburuk di Gaza, di mana jumlah korban tewas dilaporkan telah melampaui 73.000 jiwa. Sejumlah penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya juga telah menyimpulkan adanya indikasi kejahatan genosida di wilayah konflik tersebut.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan