Menyambut Bulan Ramadan 2026 Harga Bumbu Dapur Mulai Merangkak Naik

Ilustrasi Kenaikan Bumbu Dapur Jelang Ramadan - AI

Portalone.net – Harga berbagai bahan pokok jelang Bulan Ramadan 1447 H / Tahun 2026 mulai bergerak naik secara perlahan, dengan peningkatan tajam pada harga komoditas cabai rawit merah dan harga miyak sayur merek Minyak Kita yang masih bertahan di atas HET, sementara untuk komoditas beras relatif terkendali namun tetap terasa mahal bagi kalangan keluarga menengah kebawah.

Bulan Ramadan 1447 H / Tahun 2026 diperkirakan akan mulai pada tanggal 18 atau 19 Februari 2026 sehingga periode 1 sampai dengan 2 minggu sebelumya (awal–pertengahan Februari) menjadi fase klasik kenaikan permintaan bahan pangan keperluan rumah tangga.

Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional mencatat komoditas yang berulang kali memicu inflasi di awal Bulan Ramadan periode tahun 2021 sampai dengan 2025 adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit, sehingga lima komoditas ini menjadi fokus antisipasi memasuki Bulan Ramadan tahun 2026.

Pihak pemerintah telah mengklaim inflasi pangan bulan Januari 2026 melandai dan pasokan untuk nasional dalam kondisi aman, namun tekanan harga tetap muncul di beberapa komoditas tertentu, terutama seperti komoditas cabai dan minyak goreng. Infoermasi yang didapat dari Panel Harga Bapanas (Badan Pangan Nasional) dan PIHPS Bank Indonesia menunjukkan pola pembentukan harga yang sama, sebagian besar komoditas mulai turun atau stabil, tetapi komoditas cabai rawit merah serta beras kualitas tertentu dan minyak goreng tetap tinggi di tingkat konsumen.

Komoditas Cabai Rawit Merah Masih Diatas Harga Acuan Pemerintah (HAP)

Informasi yang didapat dari Panel Harga Pangan Bapanas mencatat harga komoditas cabai rawit merah secara Nasional berada di rentang harga Rp.69.000,- sampai dengan Rp.72.000,-  per kilogram dalam sepekan pertama di bulan Februari 2026, masih jauh di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) yaitu Rp.57.000,-  per kilogram.

Sedangkan data dari PIHPS Bank Indonesia per tanggal 8 Februari 2026 bahkan menunjukkan rata-rata harga cabai rawit merah Rp.72.500,- per kilogram, diiringi lonjakan bawang merah dan cabai jenis lain sebagai komoditas paling bergejolak di pasar tradisional diberbagai daerah di Indonesia. Penelitian tentang fluktuasi harga komoditas hortikultura menyebut cabai sebagai komoditas dengan volatilitas (pergerakan / perubahan) yang tinggi, dipengaruhi kondisi cuaca, pola tanam, serta gangguan distribusi, dan kenaikan harga cabai berkontribusi terhadap inflasi jangka pendek.

Di tingkat sebagian besar rumah tangga di Indonesia, cabai merah atau cabai rawit adalah salah satu penanda psikologis kesejahteraan, dimana ketika harga cabai mulai melonjak, perbincangan di masyarakat tentang hidup makin pedas kembali mendominasi percakapan publik, terutama di perkotaan di pulau Jawa dan Sumatra.

Berpegangan pada pengalaman masa pandemi covid 19 dan periode tahun 2018 sampai dengan tahun 2022 menunjukkan pola pembentukan harga yang selalu berulang, dimana cabai menjadi komoditas yang paling sering naik dan turun secara tajam, serta lonjakan jelang hari besar keagamaan hampir selalu muncul kembali meskipun ada intervensi pihak pemerintah.

Minyak Goreng Merek Minyak Kita Masih Berada Diatas HET

Minyak goreng merek Minya Kita yang merupakan program minyak goreng rakyat dari pemerintah, tetap belum kembali ke Harga Eceran Tertinggi (HET) di harga Rp.15.700,- per liter menjelang Bulan Ramadan tahun 2026.

Informasi dari data Panel Harga Pangan nasional yang dikutip dari Bloomberg Technoz menunjukkan harga minyak goreng merek Minya Kita pada tanggal 3 Februari 2026 masih berada diharga sekitar Rp.17.254,- per liter atau 9,9% di atas HET pemerintah, sebelum bergerak turun ke kisaran harga Rp.16.700,- per liter, tetap sekitar 6% hingga 7% di atas HET.

Bapanas dan BPS menilai minyak goreng sebagai salah satu komoditas dengan level harga tinggi meski perubahan indeks pergerakan harganya relatif rendah, artinya harga cenderung berhenti di level atas meski tidak lagi naik secara  tajam.

Dalam konteks Bulan Ramadan, ketika tingkat konsumsi makanan gorengan dan makanan berminyak meningkat tajam, maka kombinasi harga minyak goreng yang tinggi menjadi salah satu contoh kecil  karena di kalangan keluarga mereka cenderung mengurangi komponen lauk dan sayur pada saat berbuka puasa.

Produksi Beras Nasional Meningkat Tetapi Harga Tetap Tinggi

Informasi dari BPS Nasional yang dikutip dari Kementerian Pertanian mencatat produksi beras nasional sepanjang perioode bulan Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, naik lebih dari 13% dibanding tahun 2024, dengan proyeksi tambahan produksi 6,23 juta ton pada periode bulan Desember 2025 hingga Februari 2026.

Data ini mengindikasikan stok beras nasional menghadapi bulan Ramadan 2026 jauh lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya, sehingga tekanan harga seharusnya dapat diantisipasi secara tepat. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras yang semula dirancang untuk tahun 2025 diperpanjang hingga 31 Januari 2026 guna memastikan harga beras tetap terkendali di awal tahun, dengan penyaluran melalui pasar rakyat, ritel modern, koperasi, dan program Gerakan Pangan Murah.

Data yang diambi dari Bapanas mencatat harga beras SPHP di awal bulan Februari 2026 berada sekitar Rp.12.400,- hingga Rp.12.500,- per kilogram pada tingkat konsumen, sedikit menurun dibanding beberapa hari sebelumnya, dimana hal lain beras kualitas medium dan premium tetap lebih mahal dan di beberapa wilayah di Indonesia masih berada di atas HET.

Kebijakan Pemerintah, Respons Masyarakat dan Risiko Bulan Ramadan 2026

Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mengeklaim stabilitas harga pangan di awal tahun 2026 sebagai “modal awal” memasuki Bulan Ramadan Tahun 2026, melalui strategi penguatan pemantauan harga, penyaluran SPHP, program bantuan pangan (beras dan minyak goreng), distribusi pangan lancar dan program Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah.

BPS mengingatkan bahwa setiap awal Bulan Ramadan dalam lima tahun terakhir selalu diwarnai kenaikan harga bahan pangan tertentu, dan untuk Bulan Ramadan tahun 2026 mereka secara spesifik menyebut beras, minyak goreng, dan cabai rawit sebagai komoditas yang harus diantisipasi secepatnya.

Fakta yang ada di lapangan, gap antara HAP/ HET dan harga riil untuk cabai rawit merah serta Minya Kita dan ditambah dengan harga beras yang belum kembali ke level normal seperti yang dirasakan oleh masyarakat, menjadi tanda bahwa Bulan Ramadan tahun 2026 masih akan menjadi ujian bagi daya beli rumah tangga dan kecepatan tanggapan kebijakan pangan dari pemerintah.

Share WhatsApp
×

Apresiasi Spesial

Dukungan Anda sangat berarti bagi kami. Terima kasih telah mengapresiasi kerja keras jurnalis Portalone.net dalam menyajikan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya.

Pilih Nominal:

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini