Usai Donald Trump, Vladimir Putin Segera Kunjungi China Pekan Depan

Setelah lawatan Donald Trump usai, Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan tiba di Beijing pekan depan untuk kunjungan kerja satu hari guna memperkuat kemitraan strategis Rusia-China yang "kokoh seperti batu." (Sky News)

Portalone.net – Dinamika geopolitik global kembali berpusat di Beijing. Hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungan resminya, Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan mendarat di China pada pekan depan untuk kunjungan kerja satu hari.

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), sumber yang mengetahui kerja sama diplomatik ini mengungkapkan bahwa kunjungan Putin diperkirakan berlangsung pada 20 Mei mendatang.

Rentetan kunjungan dua pemimpin kekuatan besar dunia ini menjadi momen langka bagi diplomasi internasional. Pasalnya, China menerima kepala negara AS dan Rusia dalam bulan yang sama di luar forum multilateral. Fenomena ini dinilai para analis sebagai langkah strategis Beijing dalam menjaga keseimbangan hubungan di tengah tatanan dunia yang kian terpolarisasi.

Melalui agenda ini, China juga mencatatkan diri sebagai negara pertama yang menerima seluruh pemimpin negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berkunjung ke Beijing pada Desember lalu, diikuti oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Januari.

Diplomasi Karpet Merah AS dan Manuver Pragmatis China

Presiden AS Donald Trump baru saja menuntaskan lawatannya di China pada Jumat (15/5/2026). Kunjungan ini menandai kehadiran pertama pemimpin Gedung Putih di China dalam hampir satu dekade, setelah sempat tertunda beberapa pekan akibat eskalasi konflik di Iran.

Beijing menyambut Trump dengan upacara kenegaraan penuh: karpet merah, sorak-sorai ratusan anak sekolah, serta penghormatan 21 dentuman meriam.

Dalam pertemuan bilateral pada Kamis, Presiden China Xi Jinping menekankan pentingnya stabilitas hubungan kedua negara. Xi menyatakan bahwa AS dan China seharusnya bertindak sebagai mitra, bukan rival. Ia juga menegaskan kesiapannya bekerja sama dengan Trump untuk mengendalikan arah hubungan bilateral serta menjadikan tahun 2026 sebagai tonggak sejarah baru yang konstruktif dan stabil secara strategis.

Namun, atmosfir berbeda kemungkinan akan membungkus kedatangan Putin. Sumber internal SCMP menyebutkan bahwa penyambutan untuk Presiden Rusia diperkirakan tidak akan se-semarak kunjungan Trump, mengingat ketatnya protokoler dan kesibukan birokrasi China yang baru saja menyelesaikan agenda besar bersama delegasi AS.

Moskow Konfirmasi Kunjungan Singkat

Sinyal mengenai lawatan Putin sebenarnya telah diembuskan Kremlin sejak awal tahun. Pada Februari lalu, Moskow menyatakan bahwa Putin akan mengunjungi China pada paruh pertama tahun 2026, yang kemudian ditegaskan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko pada Maret bahwa tanggal kunjungan sedang difinalisasi.

Pada Kamis kemarin, Kremlin resmi mengonfirmasi bahwa seluruh persiapan perjalanan telah rampung dan Putin akan bertolak ke China “dalam waktu yang sangat dekat.”

Putin tercatat cukup rutin melakukan diplomasi langsung dengan Xi Jinping. Kunjungan terakhirnya ke Negeri Tirai Bambu terjadi pada September tahun lalu saat menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, sekaligus menghadiri parade militer peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

Menjaga Keseimbangan di Antara Dua Poros

Sejak meletusnya konflik di Ukraina pada 2022, Beijing secara konsisten mempererat kemitraan strategisnya dengan Moskow, dan berulang kali menegaskan bahwa hubungan kedua negara “kokoh seperti batu.” Lonjakan volume perdagangan bilateral juga terbukti menjadi katup penyelamat bagi perekonomian Rusia yang didera sanksi ekonomi bertubi-tubi dari Barat.

Kendati demikian, langkah Beijing yang secara simultan merangkul Donald Trump menunjukkan pendekatan luar negeri China yang sangat pragmatis. Dengan menyeimbangkan intensitas hubungan bersama Moskow dan Washington, China berupaya memosisikan diri sebagai jangkar stabilitas global sekaligus mengamankan kepentingan ekonomi-politik domestiknya di tahun 2026 ini.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan