Portalone.net – Belakangan ini, jagat media sosial di Indonesia diramaikan oleh tren tagar #KaburAjaDulu. Ungkapan ini mencerminkan keresahan anak muda terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi di tanah air.
Banyak yang menilai, tagar ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai kurang hadir dalam menangani berbagai persoalan generasi muda.
Fenomena ini semakin menguat ketika muncul perdebatan mengenai nasionalisme di kalangan anak muda. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai, mereka yang menggaungkan #KaburAjaDulu patut dipertanyakan rasa nasionalismenya.
Namun, di sisi lain, akademisi melihat tren ini sebagai bentuk kesadaran kritis generasi muda dalam menyuarakan ketidakpuasan mereka.
Sindiran Kritis atau Kurang Nasionalis?
Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM, Dr. Hempri Suyatna, menyebut tren #KaburAjaDulu merupakan bentuk sindiran generasi muda terhadap situasi sosial politik yang dirasa kurang menguntungkan.
Banyak dari mereka merasa bahwa negara tidak cukup hadir dalam memberikan solusi atas berbagai permasalahan, mulai dari ketidakpastian ekonomi, keterbatasan lapangan pekerjaan, hingga ketimpangan akses pendidikan.
“Dalam konteks pengetahuan, misalnya, ada kekhawatiran bahwa efisiensi anggaran akan menyebabkan masa depan pendidikan terancam.













