Portalone.net – Eskalasi konflik di kawasan Teluk kian mengkhawatirkan. Gedung pencakar langit ikonik Kingdom Centre setinggi 99 lantai di Riyadh, Arab Saudi, menginstruksikan seluruh staf kantor untuk beralih ke sistem kerja jarak jauh (work from home) mulai 18 Oktober 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Langkah pengamanan ketat ini diambil di tengah meningkatnya gelombang serangan udara oleh kelompok Houthi yang menyasar wilayah Arab Saudi, termasuk insiden penyerangan di Bandara Internasional Riyadh sepekan sebelumnya yang menewaskan 13 orang.
Berdasarkan surat elektronik dari manajemen gedung yang dilansir oleh AFP, para karyawan diminta untuk tidak hadir secara fisik di kantor. Kendati operasional perkantoran tatap muka dihentikan sementara, pusat perbelanjaan yang terletak di lantai dasar gedung tersebut dilaporkan tetap beroperasi melayani pelanggan.
Kingdom Centre merupakan rumah bagi berbagai perusahaan dan organisasi multinasional bergengsi, seperti raksasa jasa keuangan Merrill Lynch, firma konsultan McKinsey, hingga Dana Moneter Internasional (IMF). Penutupan operasional kantor ini mencerminkan nyata betapa situasi keamanan ibu kota Arab Saudi tengah berada di bawah tekanan berat.
Di hari yang sama, koalisi pimpinan Saudi mengumumkan duka mendalam setelah dua awak pesawat tewas dalam insiden jatuhnya sebuah helikopter pengintai jenis AH-6i milik Garda Nasional Saudi di kawasan Najran, dekat perbatasan Yaman.
Juru bicara koalisi, Kolonel Turki Al-Maliki, menyatakan bahwa kecelakaan maut tersebut disebabkan oleh kerusakan teknis pada helikopter saat beroperasi di wilayah kedaulatan Saudi. Namun, klaim berbeda dilontarkan oleh kubu pemberontak Houthi. Melalui juru bicaranya, Yahya Saree, kelompok tersebut mengklaim bertanggung jawab atas penembakan jatuh pesawat militer Saudi di area yang sama, meski jenis pesawat yang disebutkan adalah helikopter Apache. Hingga kini, belum ada verifikasi independen yang dapat mengonfirmasi klaim dari kedua belah pihak.
Konflik di Yaman sendiri kembali membara setelah gencatan senjata selama empat tahun runtuh. Gerakan Houthi terpantau memperluas operasi militer dengan menargetkan fasilitas minyak, kapal tanker, serta infrastruktur vital di Arab Saudi, sekaligus mendeklarasikan blokade maritim di sekitar Selat Bab el-Mandeb yang merupakan jalur pelayaran strategis global.
Menanggapi eskalasi ancaman ini, koalisi pimpinan Saudi meningkatkan pertahanan udara dan melaporkan keberhasilan pencegatan sejumlah drone serta rudal balistik di sekitar wilayah Riyadh dan provinsi timur. Tekanan terhadap infrastruktur penting membuat pemerintah memperketat keamanan secara masif, menyusul kebijakan perpanjangan pembelajaran jarak jauh di sekolah-sekolah Riyadh dan penutupan Bandara Internasional King Khalid.
Di ranah diplomasi regional, Parlemen Mesir dijadwalkan menggelar sidang darurat atas permintaan Presiden Abdel Fattah al-Sisi guna mengesahkan dukungan penuh bagi Arab Saudi dalam mempertahankan diri dari serangan Houthi. Presiden Sisi menegaskan kesiapan Kairo untuk mengambil langkah-langkah defensif guna melindungi keamanan Saudi jika dibutuhkan, tanpa berniat memicu perluasan perang terbuka.
Rangkaian peristiwa dalam sepekan terakhir ini mulai dari penutupan gedung pencakar langit pusat bisnis hingga jatuhnya korban jiwa di garis perbatasan memperlihatkan rapuhnya stabilitas regional di tengah ancaman konflik yang terus membayangi jalur perdagangan dan energi global.

