Portalone.net – Salah satu kilang minyak terbesar di dunia, Kilang Ruwais di Uni Emirat Arab (UEA), dilaporkan berhenti beroperasi total pada Selasa (10/3). Langkah darurat ini diambil menyusul serangan pesawat nirawak (drone) yang memicu kebakaran di kawasan industri tersebut di tengah eskalasi perang Iran yang kian memanas.
Kantor Media Abu Dhabi mengonfirmasi bahwa serangan drone telah menyebabkan kebakaran di Ruwais Industrial City. Meski pihak berwenang belum merinci tingkat kerusakan fasilitas, operasional kilang milik perusahaan negara Adnoc tersebut dihentikan demi alasan keamanan.
“Operasional dihentikan sepenuhnya sebagai langkah pencegahan,” ujar seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada AFP.
Evakuasi dan Ledakan Susulan
Kepanikan dilaporkan sempat terjadi di kompleks industri tersebut. Seorang saksi mata yang bekerja sebagai pengemudi di area kilang mengaku melihat api membumbung tinggi saat proses evakuasi staf sedang berlangsung.
“Tepat saat kami hendak pergi, kami melihat dua kobaran api lagi muncul dari kompleks tersebut, disertai suara keras seperti ledakan,” tuturnya.
Kilang Ruwais merupakan pilar vital energi global dan menyandang status sebagai kilang lokasi tunggal terbesar keempat di dunia. Gangguan pada fasilitas ini diprediksi akan memperparah guncangan pada pasar energi internasional.
Efek Domino Penutupan Selat Hormuz
Krisis ini diperparah dengan tertutupnya Selat Hormuz akibat konflik. CEO Aramco, Amin H. Nasser, memperingatkan bahwa perang ini dapat memberikan konsekuensi “menghancurkan” bagi ekonomi global.
Nasser menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi yang mengangkut 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupannya telah memicu reaksi berantai yang menghantam sektor pelayaran, asuransi, hingga industri otomotif dan pertanian.
“Ini adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan Teluk, melampaui gangguan-gangguan di masa lalu,” tegas Nasser.
Baca Juga:
Eskalasi di Kawasan Teluk
Serangan terhadap Ruwais diduga merupakan bagian dari upaya Teheran untuk melumpuhkan instalasi energi di negara-negara Teluk. Selain UEA, fasilitas raksasa Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Kondisi genting ini memaksa sejumlah raksasa energi mengambil langkah ekstrem:
-
QatarEnergy: Menghentikan produksi dan menyatakan status force majeure.
-
Kuwait: Mengambil langkah serupa setelah mencegat ratusan rudal dan drone.
-
Pasar Global: Harga minyak dunia sempat melonjak hingga 30 persen akibat ketidakpastian ini.
Pakar dari Arab Gulf States Institute, Robert Mogielnicki, menilai sektor energi Teluk saat ini sedang “dihantam dari berbagai arah,” mulai dari serangan fisik pada infrastruktur hingga hambatan logistik di jalur ekspor.
Hingga saat ini, negara-negara di kawasan seperti Kuwait dan Bahrain terus meningkatkan pertahanan udara mereka. Kuwait melaporkan telah menjatuhkan setidaknya 237 rudal dan 445 drone sejak konflik pecah, sementara Bahrain mencegat ratusan proyektil serupa demi melindungi infrastruktur vital mereka.






