-
Morgan Stanley Research merevisi proyeksi harga emas 2026 menjadi sekitar US$4.400/oz, menyebut pendorongnya antara lain potensi pelemahan dolar AS, pembelian ETF, dan pembelian bank sentral yang berlanjut.
-
Reuters merangkum sejumlah perkiraan: Morgan Stanley melihat US$4.500/oz pada pertengahan 2026, sementara J.P. Morgan memperkirakan rata-rata di atas US$4.600 pada kuartal II 2026 dan lebih dari US$5.000 pada kuartal IV 2026.
-
Dari sisi “penjaga pasar” industri, Reuters juga menuliskan pandangan Metals Focus yang memproyeksikan US$5.000 pada akhir 2026.
Namun, WGC mengingatkan jalur 2026 bisa bercabang. Dalam skenario perlambatan ekonomi dan turunnya suku bunga, WGC menilai emas dapat mencatat kenaikan moderat sekitar 5%–15% (tergantung kedalaman perlambatan serta kecepatan dan besaran pemangkasan suku bunga).
Tiga faktor yang paling diperhatikan pasar
-
Arah suku bunga AS & dolar
Ekspektasi pemangkasan suku bunga membuat biaya peluang memegang emas (aset tanpa kupon) turun, dan dolar yang melemah biasanya mengangkat daya tarik emas bagi pembeli non-AS. Lonjakan harga pada 22/12 juga dikaitkan dengan harapan pemangkasan suku bunga lanjutan pada 2026. -
Pembelian bank sentral (pembeli “jangka panjang”)
Reuters menekankan pembelian bank sentral kembali dipandang sebagai “jangkar” siklus, membantu menahan koreksi saat posisi investor terlalu ramai.
Morgan Stanley bahkan mencatat porsi emas di cadangan bank sentral melampaui US Treasury untuk pertama kalinya sejak 1996 sinyal pergeseran preferensi cadangan yang ikut menopang tren. -
Risiko geopolitik & geokonomi
Perkembangan geopolitik, tensi dagang, hingga isu independensi bank sentral menjadi amunisi reli “safe haven”. Pada 22/12, Financial Times menyoroti kombinasi ketegangan geopolitik dan taruhan pemangkasan suku bunga sebagai pemicu rekor baru emas.
Risiko utama: koreksi tajam bila pasar mendadak “risk-on”
Sisi gelap reli besar adalah potensi koreksi ketika kombinasi yield naik, dolar menguat, dan sentimen risk-on menipiskan “premi risiko” yang selama ini melekat di harga emas. Kerangka skenario WGC memasukkan kemungkinan penurunan 5%–20% dalam skenario “reflation return” (risk-on, biaya peluang naik, momentum melemah). Reuters juga mencatat BIS sempat menyinggung fenomena naiknya emas dan saham bersamaan sebagai sesuatu yang jarang terlihat dalam puluhan tahun, memunculkan diskusi soal risiko “overheating”.
Kesimpulan pasar jelang 2026: Konsensus institusi besar cenderung masih bullish dengan “angka psikologis” US$5.000/oz mulai sering disebut untuk 2026 namun jalannya diperkirakan lebih berliku, karena harga sudah naik sangat jauh pada 2025 dan akan semakin peka terhadap kejutan data makro maupun geopolitik. (one)







