IRGC Serang Armada Kelima AS sebagai Balasan atas Insiden Selat Hormuz

Pangkalan Militer AS di Qatar. (chimpreports)

Portalone.net – Ketegangan di kawasan Teluk semakin memuncak. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi menyatakan telah melancarkan serangan terhadap Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang berbasis di Bahrain pada Rabu (10/6) pagi.

Serangan ini merupakan langkah balasan dari Teheran setelah militer AS dilaporkan menyerang sejumlah titik di wilayah Iran, yakni Jask, Sirik, dan Qeshm, pada Selasa (9/6). Dalam pernyataannya, IRGC menyebut aksi AS tersebut sebagai tindakan “penghasut perang” yang merusak infrastruktur sipil, termasuk menara telekomunikasi dan tangki air di kota Sirik.

“Sebagai respons atas tindakan kejam musuh, pesawat tempur angkatan laut IRGC melancarkan serangan pesawat tak berawak (drone) terhadap Armada Kelima AS di Bahrain,” demikian pernyataan resmi IRGC yang dikutip oleh media Iran. Pihak IRGC juga menegaskan akan memberikan respons yang jauh lebih keras jika agresi AS berlanjut.

Akar Konflik: Insiden Apache

Konfrontasi ini dipicu oleh tuduhan Presiden AS, Donald Trump, yang mengeklaim bahwa Iran telah menembak jatuh helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS saat melakukan patroli di Selat Hormuz pada Senin (8/6). Meski helikopter canggih tersebut jatuh, Trump memastikan bahwa dua awak helikopter berhasil selamat.

“Saya baru saja diberitahu oleh militer kami bahwa tadi malam Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kami yang sangat canggih saat berpatroli di Selat Hormuz. AS harus merespons ini,” tulis Trump melalui media sosialnya.

Militer AS diketahui memang tengah meningkatkan aktivitas di sekitar Selat Hormuz menggunakan helikopter Apache, drone MQ-9 Reaper, serta jet tempur F/A-18 dan F-25 untuk menentang upaya penutupan jalur maritim strategis tersebut oleh Iran.

Catatan Panjang Konflik

Insiden jatuhnya Apache ini menjadi babak baru dalam konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Sebelumnya, ketegangan telah diwarnai dengan hilangnya sejumlah aset udara militer AS, termasuk sekitar 30 unit drone Reaper dan beberapa jet tempur yang diklaim jatuh akibat tembakan Iran.

Namun, keterlibatan helikopter Apache yang dikenal sebagai salah satu mesin perang paling mematikan dengan persenjataan rudal Hellfire—menandai eskalasi signifikan dalam pertempuran udara di wilayah tersebut.

Hingga saat ini, komunitas internasional menyoroti risiko besar dari konfrontasi langsung antara kedua kekuatan militer ini, yang berpotensi mengguncang stabilitas keamanan global dan arus perdagangan energi di kawasan Teluk.

Share WhatsApp
×

Apresiasi Spesial

Dukungan Anda sangat berarti bagi kami. Terima kasih telah mengapresiasi kerja keras jurnalis Portalone.net dalam menyajikan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya.

Pilih Nominal:

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan