Portalone.net – Gelombang unjuk rasa yang melibatkan siswa sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa di Prancis berujung pada kerusuhan meluas. Hingga Jumat (2/10), otoritas penegak hukum setempat mencatat hampir 2.000 orang telah ditangkap menyusul eskalasi demonstrasi yang merembet menjadi aksi kekerasan.
Aksi protes yang awalnya dipicu oleh krisis fasilitas pendidikan mulai dari kekurangan guru hingga kerusakan bangunan sekolah ini sejatinya telah bermula di Paris sejak September lalu. Namun, dalam beberapa hari terakhir, situasi berubah drastis menjadi aksi anarkis dan bentrokan fisik dengan aparat keamanan di berbagai wilayah.
Menteri Kehakiman Prancis, Gerald Darmanin, mengungkapkan keprihatinannya atas pergeseran karakter demonstrasi tersebut. Menurutnya, aksi murni para pelajar kini telah ditunggangi oleh kelompok perusuh.
“Ada minoritas yang aktif dan melakukan kekerasan. Kami bahkan tidak yakin apakah mereka adalah siswa sekolah menengah atas,” ujar Darmanin kepada stasiun radio RTL, sebagaimana dilansir NBC News.
Darmanin merinci, dari hampir 2.000 orang yang diamankan sejak awal gelombang protes, sekitar dua pertiga di antaranya kini berada dalam tahanan kepolisian.
“Ini telah beralih dari demonstrasi siswa SMA menjadi gangguan ketertiban umum. Orang-orang menargetkan bus dan membakar sekolah. Itu bukan lagi sekadar masalah protes,” tegasnya.
Berdasarkan laporan media internasional seperti The Independent, ketegangan mulai melonjak tajam sejak Selasa (29/9) sebelum akhirnya pecah dalam bentrokan terbuka dengan polisi pada Rabu dan Kamis (1.0/1). Sejumlah rekaman video di media sosial bahkan memperlihatkan insiden penyerangan terhadap tenaga pendidik di tengah kerumunan massa.
Akar kemarahan para pelajar berpusat pada krisis sumber daya di sektor pendidikan publik Prancis. Para siswa meluapkan kekecewaan mendalam atas lambatnya penanganan pemerintah terhadap posisi guru yang kosong tanpa pengganti, serta buruknya kondisi infrastruktur gedung-gedung sekolah yang dinilai tidak layak.
Di tengah situasi yang memanas, laporan dari lembaga-lembaga intelijen menyebutkan adanya dugaan keterlibatan politisi sayap kiri garis keras dalam memprovokasi kerusuhan. Kendati demikian, klaim tersebut langsung dibantah keras oleh para anggota parlemen dari kubu terkait.
Pemerintah Prancis kini menghadapi tekanan ganda, selain harus meredam gejolak keamanan dan ketertiban umum yang kian meluas, mereka juga dituntut untuk segera memberikan solusi konkret terhadap persoalan struktural di sektor pendidikan yang menjadi pemicu utama kemarahan publik.
