Portalone.net – Konflik bersenjata di Yaman kian membara dan memicu krisis kemanusiaan yang mendalam. Kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan mematikan yang menghantam kawasan pemukiman di Taiz kota terbesar ketiga di Yaman hingga menewaskan dua anak perempuan remaja pada Selasa.
Serangan ini semakin mempertegas ancaman nyata yang dihadapi warga sipil di Taiz, sebuah wilayah strategis yang sebagian besar wilayahnya telah dikepung dan diisolasi oleh pasukan Houthi selama konflik berkepanjangan ini.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, pada Selasa mengecam keras pengepungan tersebut. Menurutnya, tindakan Houthi yang memutus jalur pasokan utama dari wilayah kendali pemerintah telah menempatkan warga sipil pada “risiko besar” serta melambungkan harga kebutuhan pokok hingga memicu kelaparan.
“Bantuan kemanusiaan harus diizinkan masuk ke kota ini tanpa hambatan. Warga sipil yang ingin pergi harus diizinkan untuk melakukannya secara bebas dan aman,” tegas Türk. Ia juga mendesak kedua belah pihak untuk menghindari penggunaan senjata peledak di area padat penduduk.
Insiden di Taiz terjadi sehari setelah tragedi berdarah di Provinsi Shabwa. Pejabat senior pemerintah Yaman melaporkan bahwa korban tewas akibat serangan rudal balistik Houthi yang menghantam sebuah kamp pelatihan militer pemerintah pada Senin melonjak menjadi 73 orang.
Serangan telak tersebut menghantam para rekrutmen muda berusia antara 18 hingga 20 tahun yang tengah berbaris dalam sesi latihan pagi di kamp militer al-Alam, Distrik Jardan. Gubernur Shabwa, Awad Ibn al-Wazir, menegaskan bahwa para korban tidak dipersiapkan untuk operasi tempur di garis depan, melainkan direkrut murni untuk mengamankan wilayah provinsi tersebut. Serangan ini tercatat sebagai insiden paling mematikan sejak konflik kembali berkobar hebat pada musim panas lalu, menyusul hancurnya kesepakatan gencatan senjata 2022 akibat serangan udara koalisi pimpinan Saudi di Bandara Internasional Sanaa.
Krisis di Yaman kini telah melebar menjadi bagian dari front pertempuran regional yang lebih luas. Kelompok Houthi kian gencar meluncurkan serangan rudal dan drone lintas batas ke arah Arab Saudi sebagai bentuk pembalasan atas dukungan Riyadh terhadap pemerintah sah Yaman.
Menghadapi eskalasi serangan udara Houthi yang menyasar infrastruktur vital di Arab Saudi termasuk insiden intersepsi rudal di dekat Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sejumlah negara sekutu mulai memperkuat sistem pertahanan kerajaan.
Pemerintah Inggris mengumumkan perluasan dukungan militernya melalui pengerahan jet-jet tempur Angkatan Udara Kerajaan (RAF) untuk melakukan patroli pertahanan udara guna melindungi kota-kota Saudi dari ancaman rudal dan drone. Namun, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menegaskan bahwa pasukannya tidak akan melancarkan serangan ofensif ke target darat Houthi di Yaman.
Langkah serupa juga diambil oleh Mesir, yang dilaporkan akan mengerahkan sistem pertahanan udara dan armada pesawat tempur untuk membantu menangkal proyektil yang mengarah ke wilayah Saudi, tanpa melibatkan pengerahan pasukan darat ke Yaman.
Di sisi lain, Amerika Serikat menegaskan sikapnya untuk tetap memberikan dukungan logistik dan intelijen kepada Riyadh, namun menolak terlibat langsung dalam pertempuran darat. Utusan khusus AS untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, menyatakan bahwa Washington siap membantu kebutuhan logistik pertahanan Saudi, namun pelibatan pasukan darat AS dalam krisis tersebut dinilai tidak efektif.
Konflik bersenjata yang meletus sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 ini telah menewaskan lebih dari 150.000 jiwa dan melahirkan salah satu bencana kemanusiaan paling parah di dunia, yang kini kembali terancam memburuk akibat gelombang pertempuran terbaru.
