Menurut laporan tempo.co (2024) menerangkan bahwa pemerintah, dalam hal ini adalah Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani resmi mengalokasikan anggaran program Makan Bergizi Gratis sebesar Rp 71 triliun dalam RAPBN 2025, dimana menurut menko Pangan Rinciannya adalah Rp63,356 triliun untuk pemenuhan gizi nasional dan Rp7,433 triliun untuk program dukungan manajemen.
Pastinya kita sering melihat program yang semangatnya bagus di awal saja , tapi lemah dalam pelaksanaan nya. Kebanyakan dari sejarah program-program serupa sebelumya, sering kali semangat di awal tidak sebanding dengan pelaksanaan ketika di lapangan. Banyak program akhirnya berhenti di tengah jalan karena masalah anggaran, distribusi, atau birokrasi.
Program ini semestinya bisa didapatkan oleh semua pihak sebagaimana seharusnya, terutama bisa terdistribusi di sekolah yang berada di pedalaman wilayah. Jangan sampai Makan Bergizi Gratis hanya berpusat pada sekolah yang berada di kota saja, sehingga kesenjangan ini jelas akan menimbulkan kontra yang tidak bisa di abaikan.
Meski program ini bagus, pelaksanaannya tentu tidak mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah soal anggaran. Tidak hanya pada anggaran namun juga terdapat tantangan lainnya dalam pengimplementasiannya. Menurut Ukmindonesia.id beberapa sekolah melaporkan adanya makanan yang basi yang dikonsumsi siswa. Ini tentunya menjadi pengingat bagi pemerintah, bukannya sehat justru anak-anak bisa terkena penyakit karena hal tersebut. Hal-hal seperti ini harus segera ditangani agar program tidak kehilangan kepercayaan dari masyarakat.
Keberhasilan program makan bergizi gratis bukan cuma hanya di hitung pada seberapa besar dana yang disiapkan, tapi juga bagaimana program ini dirancang secara jujur dan transparan. Jangan sampai makanan yang seharusnya bergizi, justru tidak terlaksana dengan baik karena anggaran bocor di tengah jalan. Jangan juga hanya jadi formalitas saja ataupun seremoni sesaat, kemudian menghilang di di tahun- tahun berikutnya.
Kebijakan Ini adalah langkah penting dalam membangun masa depan Indonesia. Pendidikan yang berkualitas butuh dukungan dari berbagai sisi, termasuk dari aspek gizi. Meski masih banyak tantangan, program ini layak dipertahankan dan disempurnakan. (*)







