“Jarang, tapi bukan pertama kali, cuma kali ini jauh banget bedanya,” katanya.
Ariston Tjendra, pengamat pasar uang lainnya, menduga Google Search melakukan kesalahan kalkulasi dengan membagi dua nilai kurs yang sebenarnya.
“Kecuali BI melakukan pemangkasan nilai rupiah, seperti redenominasi, rupiah tidak mungkin secepat itu menguat,” ungkapnya.
Meskipun kesalahan ini hanya sementara, peristiwa ini menunjukkan betapa besar pengaruh data dari mesin pencarian terhadap persepsi publik.
Banyak orang yang langsung panik atau bahkan terlalu bersemangat melihat angka tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari otoritas keuangan.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam mencari informasi keuangan, sebaiknya kita tidak hanya mengandalkan satu sumber, terutama dari mesin pencarian, melainkan juga memverifikasi langsung ke situs resmi seperti Bank Indonesia atau lembaga keuangan terpercaya. (one)







