Portalone.net – Banjir masih menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Kota Jambi. Namun, upaya untuk mengakhirinya mulai diarahkan pada langkah yang lebih terukur.
Anggota DPR RI Dapil Jambi, Edi purwanto optimistis persoalan banjir di Kota Jambi dapat dituntaskan secara bertahap dalam lima tahun ke depan.
Optimisme itu disampaikannya setelah bersama Wali Kota Jambi, Maulana dan Wakil Wali Kota Jambi, Diza serta Kepala Balai meninjau langsung progres pembangunan kolam retensi yang menjadi salah satu bagian penting dari strategi pengendalian banjir Kota Jambi.
Edi melihat progres pembangunan di lapangan sudah cukup menggembirakan. Sejumlah pekerjaan, termasuk pemasangan tiang pancang dan aktivitas alat berat, terus berjalan.
“Sekarang kita punya input control, bagaimana menyelesaikan banjir di Kota Jambi. Ada beberapa strategi yang kita coba bereskan dulu. Mudah-mudahan dalam waktu lima tahun ini Kota Jambi akan terbebas dari banjir,” kata Edi.
Menurutnya, penyelesaian persoalan banjir tidak bisa dilakukan dengan satu program saja. Dibutuhkan strategi yang saling terhubung, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir hingga penataan kawasan.
Karena itu, kolam retensi yang tengah dikerjakan ini diharapkan bukan sekadar menjadi bangunan penampung air, tetapi menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di Kota Jambi.
Edi juga menyebut, pembangunan kolam retensi tersebut ditargetkan selesai pada 20 September 2026.
“Insyaallah nanti 20 September 2026 selesai pengerjaan kolam retensi ini. Pak Kepala Balai sudah berkomitmen untuk menyelesaikannya,” sebutnya.
Namun, bagi Edi, pekerjaan tidak berhenti setelah kolam retensi selesai dibangun.
Ia justru melihat kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ruang publik baru bagi masyarakat Kota Jambi.
“Nanti tinggal aksesori dan sebagainya, bagaimana kota mempercantik, sehingga kolam retensi menjadi destinasi wisata orang-orang kota untuk jogging, untuk berkumpul, untuk kuliner dan sebagainya,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, kawasan kolam retensi nantinya diharapkan tidak hanya berfungsi ketika hujan datang, tetapi juga hidup setiap hari sebagai ruang interaksi masyarakat.
Bahkan, Edi membayangkan kawasan itu dapat menjadi tempat mahasiswa, organisasi kepemudaan dan berbagai kelompok masyarakat berdiskusi mengenai persoalan Jambi.
“Bisa saja nanti ada adik-adik mahasiswa, adik-adik OKP dan macam-macam menggunakan tempat ini untuk diskusi, menggali persoalan-persoalan Jambi, menggali persoalan yang memang bisa diuraikan secara bersama-sama,” jelasnya.
Ada satu gagasan menarik yang disampaikan Edi setelah melihat kondisi air di kolam retensi.
Ia menilai air di kawasan tersebut terlihat cukup jernih. Karena itu, ia mengusulkan agar kolam retensi nantinya diisi ikan dalam jumlah besar.
“Kalau airnya jernih, saya punya usul nanti masukkan ikan kurang lebih 200 sampai 300 ribu ikan. Tidak boleh dipancing, biarkan saja lima, enam tahun sampai besar,” imbuhnya.
Konsep itu, kata Edi, bisa menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem baru sekaligus mempercantik kawasan kolam retensi.
Untuk merealisasikannya, ia menyebut perlu disiapkan sistem pengelolaan, termasuk pakan dan penjagaan kawasan.
“Pakannya kita siapkan, penjaga parkirnya kita siapkan. Nanti kita coba diskusikan dengan Pak Wali Kota,” katanya. (*)
