IHSG Anjlok 8,01 Persen dan Rupiah Tembus Rp18.038 Imbas Rencana Penurunan Status MSCI

Aktivitas pemantauan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto. Ist)

Portalone.net – Pasar keuangan domestik pagi ini diguncang sentimen negatif ganda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10). Anjloknya pasar dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memulai konsultasi publik terkait usulan penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG pada pembukaan perdagangan langsung merosot 469,86 poin atau terperosok 8,01 persen ke level 5,393,92. Tekanan jual mendominasi lantai bursa secara masif; tercatat sebanyak 595 saham melemah, hanya 14 saham yang menguat, dan 33 saham stagnan. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp905,15 miliar dengan volume perdagangan 5,36 miliar saham. Di tengah aksi jual besar-besaran (sell-off), investor asing terpantau masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp567,96 miliar di seluruh pasar.

Langkah drastis MSCI meninjau ulang status pasar modal RI didasari oleh penilaian bahwa reformasi pasar saham domestik belum menunjukkan kemajuan yang konsisten. Penyedia indeks global tersebut secara spesifik menyoroti ketidakjelasan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta minimnya bukti penegakan regulasi yang memadai.

Alih-alih menurunkan status Indonesia ke kategori pasar perintis (frontier market), MSCI langsung mengusulkan penurunan ke kategori pasar mandiri (standalone market). Periode konsultasi bagi pelaku pasar dibuka hingga 30 April 2027, sebelum keputusan final resmi diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

Tekanan di pasar modal turut menjalar ke pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah ikut melemah 100 poin atau terkoreksi 0,56 persen ke level Rp18.038 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah ini bergerak seirama dengan tekanan yang dialami oleh mayoritas mata uang kawasan Asia lainnya. Yen Jepang tercatat ambrol paling dalam hingga 0,56 persen, disusul won Korea Selatan yang terkoreksi 0,26 persen, peso Filipina turun 0,06 persen, dolar Singapura melemah 0,05 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,04 persen, dan yuan China melemah tipis 0,02 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong terpantau bergerak mendatar.

Analis Mata Uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu oleh sentimen domestik dari pasar ekuitas, tetapi juga dibebani oleh faktor eksternal. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mengerek lonjakan harga minyak mentah dunia, yang turut memperkuat posisi dolar AS secara global.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi di Timur Tengah yang kembali melonjakkan harga minyak mentah dunia. Dari domestik, sell-off di pasar ekuitas juga masih terus membebani rupiah,” ujar Lukman, Jumat (16/10). Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan