Portalone.net – Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh penting di kancah kebudayaan dan politik nasional. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, atau yang lebih dikenal sebagai Guruh Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu (26/9) dalam usia 73 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh politisi PDI Perjuangan (PDIP), Cyril Raoul Hakim (Ciko Hakim). “Benar (beliau meninggal),” ujarnya.
Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, melalui keterangan tertulis menyampaikan bahwa almarhum sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, sebelum akhirnya berpulang.
“Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra bin Sukarno pada usia 73 tahun,” tutur Hasto.
Lahir pada 13 Januari 1953, Guruh merupakan putra bungsu dari Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, dari pernikahannya dengan Fatmawati. Ia juga merupakan adik kandung dari Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri.
Perjalanan pendidikannya mencakup masa sekolah di Perguruan Cikini dan SMA Negeri 25 Jakarta. Ia kemudian mendalami bidang Arkeologi di University of Amsterdam selama tiga tahun hingga 1974. Konsistensinya terhadap dunia pendidikan berlanjut di tanah air, di mana ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI pada 2008 dan gelar Magister Manajemen pada 2010.
Semasa hidupnya, Guruh dikenal luas sebagai seorang seniman multidimensional yang mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan seni tari dan musik Nusantara. Melalui tangan dinginnya, ia mendirikan sejumlah kelompok seni legendaris, seperti Swara Mahardika dan GSP Production.
Di ranah musik populer, Guruh turut membidani lahirnya grup pelopor progresif rock Guruh Gipsy serta Gank Pegangsaan bersama musisi ternama seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.
Karyanya abadi dalam lembaran sejarah musik Indonesia melalui deretan lagu legendaris, di antaranya:
-
Kala Sang Surya Tenggelam
-
Melati Suci
-
Zamrud Khatulistiwa
-
Lenggang Puspita
-
Mahadaya Cinta
-
Galih dan Ratna
Selain mendedikasikan diri di bidang seni, Guruh juga aktif meneruskan garis perjuangan politik sang ayah. Ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sejak 1982, yang kemudian bertransformasi menjadi PDI Perjuangan (PDIP) pada 1999.
Karier legislatifnya terbilang panjang dan stabil, di mana ia dipercaya mengemban amanah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) dari daerah pemilihan Jawa Timur selama rentang masa jabatan 1999 hingga 2024.
