Secara kelas, USS Abraham Lincoln (CVN-72) adalah kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz. Angkatan Laut AS menyatakan kapal induk kelas Nimitz bersama kelas Gerald R. Ford termasuk kapal perang terbesar di dunia dan dirancang untuk masa dinas sekitar 50 tahun dengan satu kali pengisian ulang bahan bakar nuklir di pertengahan usia pakai.
Untuk gambaran skalanya, rilis resmi Angkatan Laut AS menyebut kapal induk kelas Nimitz memiliki displacement sekitar 100.000 ton, panjang 1.092 kaki (±333 meter), diawaki sekitar 5.000 personel, dan ditenagai dua pembangkit nuklir yang menggerakkan empat mesin utama.
Adapun data teknis publik USS Abraham Lincoln menunjukkan kapal ini memakai dua reaktor nuklir A4W, berkecepatan lebih dari 30 knot, dan membawa kombinasi awak kapal serta sayap udara yang totalnya bisa mendekati 5.000–6.000 orang tergantung operasi.
Walau kapal induk identik dengan pesawat tempurnya, CVN juga dibekali pertahanan berlapis. Data teknis publik USS Abraham Lincoln mencantumkan sistem pertahanan titik seperti Sea Sparrow, Rolling Airframe Missile (RAM), dan Phalanx CIWS; serta sistem penangkal torpedo AN/SLQ-25A Nixie dan beragam radar untuk deteksi, kendali lalu lintas udara, serta pemanduan tembakan.
Namun, dalam operasi modern, “daya pukul” utama terhadap target darat biasanya berasal dari kombinasi serangan udara sayap kapal induk dan rudal jelajah yang diluncurkan kapal pengawal bukan dari kapal induk semata.
Sejumlah analis melihat penguatan postur militer AS di kawasan sebagai sinyal bahwa Washington sedang memperluas pilihan dari pencegahan, perlindungan jalur pelayaran, hingga opsi serangan terbatas—meski konsekuensi eskalasinya dinilai besar.













